Iklan

Kesejahteraan Kunci Persatuan

Sabtu, 14 September 2019, September 14, 2019 WIB Last Updated 2026-04-20T02:29:18Z

Amerika Serikat (AS) mungkin salah satu negara dengan begitu komplet rasnya. Bangsa dari berbagai wilayah dunia ada di negeri adidaya tersebut. Di Paman Sam dapat ditemukan orang keturunan Afrika, Asia, Eropa, Australia, dan Amerika Latin. AS menjadi mini dunia. Seluruh suku bangsa ada di sini.
Namun, negeri ini jarang dilanda perang suku, konflik antaretnis, sentimen keagamaan, atau berbagai situasi yang mengarah ke disintegrasi bangsa. Demikian pun Indonesia. Negara kita ini juga banyak etnis, suku, dan agama. Lalu, mengapa di AS tidak pernah terjadi ancaman disintegrasi bangsa, tapi di Indonesia begitu sering muncul gerakan yang menjurus destruktif? Persoalannya terletak pada kondisi warga.
Rakyat AS begitu sejahtera. Orang menganggur dibayar negara. Kesehatan ditanggung negara. Orang telantar diberi makan negara. Tapi di sini, rakyat belum sejahtera. Orang miskin masih begitu banyak. Tahun ini warga miskin masih 25,14 juta jiwa, sedangkan penganggur masih 6,8 juta orang. Ini mestinya menjadi tanggung jawab negara sebagaimana termuat dalam Pasal 33 UUD 45 (1) “Fakir miskin dan anak-anak terlantar dipelihara negara.”
Namun karena negara sendiri masih merangkak untuk berdaulat secara ekonomi, belum mampu memberi subsidi kebutuhan seluruh orang miskin. Namun berbagai program pengatasan kemiskinan sudah dijalankan, walau belum optimal. Situasi belum sejahtera inilah yang terus bisa menjadi dengan mudah “digosok-gosok” guna meletupkan berbagai gerakan, termasuk disintegrasi.
Kasus Papua dan Papua Barat belum lama hanyalah contoh. Walaupun pemicunya kasus rasis, itu hanya digunakan sebagai landasan gerakan disintegrasi. Setiap ada “materi” akan selalu dimanfaatkan memunculkan hasrat memisahkan diri. Maklum hingga kini Papua berada dalam posisi tertinggi daftar provinsi miskin. Warga Papua 28 persen lebih masih miskin.
Demikian pula Papua Barat masih 25 persen lebih warga yang miskin. Baru diikuti NTT, Maluku, dan Gorontalo. Ketimpangan kesejahteraan rakyat ini sering dimanfaatkan orang-orang tidak bertanggung jawab. Mereka memprovokasi dengan berbagai isu sehingga sering terjadi kericuhan. Walau isu lain seperti agama dan etnis termasuk mudah dijadikan alat provokasi adu domba, semua provokasi sukses karena faktor kemiskinan.
Dengan kata lain, untuk memupuk kesatuan dan persatuan bangsa tiada jalan lain bagi pemerintah selain menyejahterakan rakyat secara merata. Jangan ada ketimpangan kaya-miskin lagi karena situasi seperti itu mudah dijadikan alat melecut kerusuhan demi tujuan kehancuran NKRI.
Orang yang sejahtera mungkin masih bisa diprovokasi, tetapi cukup sulit dan relatif kecil pesertanya. Kalau orang sudah sejahtera, mereka tidak mau apaapa lagi. Mereka sulit dibidik dari sisi etnis ataupun agama yang selama ini sangat mudah digoyang pecundang- pecundang yang menginginkan NKRI hancur.
Untuk mencapai rakyat yang sejahtera, Presiden Joko Widodo (Jokowi) menuju periode kedua telah memiliki strategi pembangunan untuk lima tahun ke depan, bermodalkan persatuan dan kesatuan bangsa. Ini disampaikan dalam pidato di Sentul International Convention Center (SICC) Bogor, Minggu (14/7) malam.
Dia berjanji akan berupaya membuat Indonesia lebih produktif, berdaya saing, dan fleksibilitas tinggi dalam menghadapi perubahan dunia. Presiden akan meneruskan pembangunan infrastruktur, pembangunan sumber daya alam, membuka pintu investasi selebar-lebarnya, mereformasi birokrasi, dan mengatur anggaran APBN lebih efisien dan produktif. Ya, semoga saja lima tahun ke depan bangsa semakin sejahtera.
Rakyat memang belum sejahtera. Income per capita baru 56 juta rupiah atau 3,927 dollar AS. Sebenarnya, angka ini pun masih perlu dicek di lapangan. Sebab kalau benar rata-rata penduduk berpendapatan segitu, hidup WNI lumayan sejahtera. Sebab mereka memiliki uang 155.000-an untuk kebutuhan tiap hari.
Kalau mereka menggunakan untuk kebutuhan makan 50.000 rupiah sehari saja, maka masih bisa menabung 105.000 rupiah perhari. Namun, kenyataan di lapangan, rasanya tidak sampai segitu income per capita WNI. Negara memang terus bekerja keras untuk melayani bangsanya.
Hal itu terlihat ada hasil, terutama kalau dicermati pertumbuhan ekonomi beberapa tahun belakangan. Berturut- turut pertumbuhan ekonomi tahun 2014 mencapai 5,01 persen. Kemudian 2015 turun jadi 4,88 persen. Tahun 2016 naik lagi jadi 5,03 persen. Lalu 2017 merangkak jadi 5,07 persen dan tahun lalu 5,17 persen.
Meskin tidak banyak, ada kenaikan (kecuali 2015). Untuk periode kedua tadi, Presiden Jokowi menyebutkan akan memanfaatkan anggaran APBN lebih efisien dan produktif. Tetapi, sayang, negeri ini masih banyak maling. Anggaran APBN untuk rakyat, banyak dimakan sendiri oleh pejabat. Ini yang bakal memberatkan upaya mewujudkan rakyat lebih sejahtera pada akhir tahun kelima Jokowi nanti.
Apalagi, senjata ampuh pemerintah untuk mengamankan uang APBN, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) telah dihancurkan oleh DPR. KPK sudah masa lalu. Orang begitu bermasalah dipilih memimpin KPK. Kefatalan ini berawal dari pemilihan panitia seleksi (pansel) calon pimpinan (capim) KPK.
Banyak orang tidak netral dipilih jadi pansel. Maka, langsung atau tidak, Presiden Jokowi terlibat pada kehancuran KPK (karena dia yang memilih pansel), walau dalam banyak kesempatan Jokowi selalu mengatakan KPK harus diperkuat. Apalagi segala masukan dan keberatan rakyat sama sekali diabaikan Presiden, dengan mengirim langsung 10 nama hasil seleksi pansel ke DPR.
Padahal rakyat berharap ada nama baru dan pencoretan beberapa nama dari 10 capim terpilih. Jadi, Presiden bakal kena getah sikapnya sendiri karena bakal makin banyak uang APBN ditilep pejabat lantaran KPK sudah ompong dan pemimp i n nya tidak berintegritas. Imbasnya, program-program yang dicanangkan tidak berjalan baik.

Pancasila

Indonesia mungkin belum sejahtera, akan tetapi beruntung karena memiliki Pancasila. Dasar Negara ini menjadi perekat persatuan dan kesatuan bangsa, apa pun kondisinya. Fungsi utama Pancasila adalah alat pemersatu warga. Rakyat boleh berbeda agama, suku, etnis, atau jumlah harta, tetapi semua dapat direkatkan oleh Pancasila.
Nilai- nilainya menjadi pegangan bermasyarakat dan bernegara. Sayang, sebagian kecil bangsa mulai ada yang meragukan fungsi dan isi Pancasila. Padahal fungsinya begitu penting karena menjadi pemersatu bangsa dari waktu ke waktu. Sementara itu, isinya menjadi pegangan dalam bermasyarakat dan bernegara.
Pancasila sudah terbukti sakti karena digoyang terus, namun tetap utuh. Tak ada yang mampu meruntuhkan Pancasila. Seluruh bangsa harus menjaga Pancasila sebagai benteng terakhir persatuan dan kesatuan.
Mulai sekarang, marilah menjunjung tinggi semangat persatuan dan kesatuan supaya negara ini tetap utuh, damai dan bersatu. Semangat nasionalisme harus terus digelorakan guna meraih cita-cita bangsa yang maju dan sejahtera sebagaimana diinginkan para pendiri bangsa.
Maka, segala bentuk aksi yang merongrong NKRI harus dihadapi bersama. Jangan sampai ada satu pun warga yang ingin membawa sebagian wilayah terlepas dari Indonesia. Di sisi lain, pemerintah harus terus membangun pusatpusat pertumbuhan di desa, perbatasan, pulau terluar dan tempat-tempat terpencil lain.
Negara harus hadir di sana dengan membangun perekonomian. Jangan sampai ada wilayah merasa ditinggalkan negara. Dengan pembangunan perdesaan, ekonomi rakyat bawah bakal terangkat. Ada 1.734 desa wisata. Ini harus dioptimalkan agar menjadi pengundang wisatawan. Target 10.000 desa wisata harus benarbenar diwujudkan.
Sebab sekarang ini wisata sebagai “jalan tol” menggerakkan ekonomi rakyat terpencil sekalipun. Banyak tempat semula sepi, begitu dibuat destinasi wisata dan masuk ke media sosial, wisatawan langsung berbondong- bondong. Inilah “jalan tol” menggerakkan ekonomi perdesaan. Rakyata sejahtera, negara terjaga.
Komentar

Tampilkan

  • Kesejahteraan Kunci Persatuan
  • 0

Terkini

Topik Populer