JAKARTA – Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud)
menganggarkan dana sebesar 2,85 triliun rupiah untuk Bantuan
Operasional Sekolah (BOS) afirmasi dan 1,5 triliun rupiah untuk BOS
kinerja untuk sekolah yang berkinerja baik.
“BOS afirmasi diperuntukkan bagi sekolah yang berada di daerah
tertinggal sesuai dengan ketentuan perundang-undangan,” kata Menteri
Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud), Muhadjir Effendy, di Jakarta,
Jumat (13/9).
Kedua BOS tersebut bertujuan meningkatkan akses dan mutu pendidikan
siswa. Mendikbud menambahkan kedua BOS itu digunakan untuk penyediaan
bantuan sarana pembelajaran bagi sekolah dan tablet bagi siswa.
Sasaran sekolah penerima BOS afirmasi sebanyak 30.227 sekolah, dan
tablet untuk siswa sebanyak 1,06 juta tablet. Sedangkan sasaran BOS
kinerja adalah 6.004 sekolah dan 692.212 siswa. Sarana pembelajaran
yang diberikan pada sekolah yakni komputer, server, tablet, laptop, LCD, router, dan eksternal harddisk.
“Kami berharap, dengan bantuan anak-anak di daerah terdepan,
tertinggal dan terluar (3T) bisa mendapatkan sarana pembelajaran yang
baik. Nantinya tidak hanya daring, tapi juga luring,” jelasnya.
BOS afirmasi adalah bantuan yang diberikan pada sekolah-sekolah yang
berada di daerah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T). Sementara BOS
kinerja diberikan kepada sekolah yang berhasil meningkatkan mutu.
Digitalisasi Sekolah
Dalam kesempatan yang sama, Sekretaris Jenderal Kemendikbud,
Didik Suhardi, mengatakan pihaknya akan merilis digitalisasi sekolah di
Natuna, Kepulauan Riau, pada 18 September 2019.
Dengan adanya bantuan tersebut (BOS afirmasi), Didik berharap siswa
dapat menggunakannya untuk belajar dan juga mengakses konten-konten
pembelajaran dari Kemendikbud.
Didik menyebutkan Kemendikbud sudah mempunyai Rumah Belajar yang
memiliki setidaknya 40.000 materi pembelajaran baik berupa video,
presentasi, audio, hingga bank soal.
“Rumah Belajar ini gratis, tidak perlu bayar karena merupakan milik
pemerintah. Kami harapkan semakin banyak yang mengakses Rumah Belajar
ini,” harap Didik.
Ia menambahkan, dalam waktu dekat, Kemendikbud juga membagikan gadget berupa
tablet ke sekolah yang berada di wilayah tertinggal, terluar, terdepan
(3T). Agar tidak ada penyelewengan, Kemendikbud akan mengawasi proses
berjalannya program digitalisasi sekolah itu.
Dalam pengawasan ini, pihaknya akan melibatkan Inspektorat Jenderal
Kemendikbud. Selain itu, kepala dinas pendidikan di daerah yang
terpapar program tersebut juga diminta terlibat aktif dalam program ini.
“Kita juga minta semua kepala dinas memberi pembinaan kepada
sekolah. Mereka juga diharapkan mampu mengawasi sekolah agar
betul-betul memberikan peralatan untuk kebutuhan pembelajaran sesuai
yang kita harapkan,” ujar Didik.
