Iklan

Harga Plastik Melonjak Hingga 100 Persen, Pedagang Menjerit, Disperindag Dorong Zero Waste

Senin, 06 April 2026, April 06, 2026 WIB Last Updated 2026-04-20T02:29:49Z

 


SEMARANG, KONTAK BANTEN – Lonjakan harga plastik hingga 50 persen sampai 100 persen dalam beberapa waktu terakhir membuat pelaku usaha dan pedagang di sejumlah wilayah Jawa Tengah terpukul. Kondisi ini mendorong Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Jawa Tengah untuk mengajak pelaku usaha beralih ke konsep ramah lingkungan atau zero waste.

Berdasarkan pemantauan di berbagai daerah seperti Pekalongan, Batang, Kendal, Semarang, hingga Salatiga, para pelaku usaha mengeluhkan kenaikan harga plastik pembungkus yang signifikan.

Kenaikan tersebut memaksa pedagang mencari strategi untuk menekan biaya produksi. Sejumlah pedagang makanan bahkan terpaksa menaikkan harga jual produk mereka. Salah satunya pedagang es jumbo yang sebelumnya menjual Rp4.000–Rp5.000 per gelas, kini naik menjadi Rp6.000–Rp7.000 per gelas. Dampaknya, omzet penjualan mengalami penurunan dalam beberapa hari terakhir.

Kenaikan harga terjadi pada berbagai jenis plastik. Plastik jenis PP ukuran 1 kilogram yang sebelumnya sekitar Rp38.000 kini mengalami perubahan harga, plastik Owol naik dari Rp5.000 menjadi Rp7.000, serta plastik cup dari Rp14.000 menjadi Rp22.000. Tidak hanya itu, harga kertas pembungkus nasi juga melonjak dari Rp10.000 menjadi Rp22.000 per pak.

Seorang pedagang nasi Padang di Kota Semarang, Ayong, mengaku terpaksa mengurangi penggunaan plastik dengan beralih ke bahan lain seperti daun pisang dan kertas bekas.

“Sekarang mengurangi pembungkus plastik untuk menjual makanan. Dagangan nasi bungkus gunakan daun pisang dan kertas koran. Repotnya mencari kertas koran bekas sekarang juga sulit,” ujarnya.

Kepala Disperindag Jawa Tengah, July Emmylia, mengatakan pihaknya terus memantau lonjakan harga plastik tersebut. Ia menilai kondisi ini justru menjadi momentum untuk memperkuat gerakan pengurangan penggunaan plastik.

“Kita terus melakukan monitoring lonjakan harga plastik tersebut. Sebenarnya hal ini malah ada hikmahnya, karena arahnya nanti ke zero waste dan pengurangan penggunaan plastik memang sudah didorong sejak lama,” kata July.

Menurutnya, implementasi pengurangan penggunaan plastik selama ini belum berjalan konsisten. Oleh karena itu, kondisi saat ini dinilai sebagai peluang untuk menghidupkan kembali gerakan tersebut.

“Kalau dulu kan pernah gerakan zero plastik, tapi kemudian berhenti. Ini yang harus kita dorong kembali agar lebih konsisten,” tambahnya.

Ekspor Terdampak Konflik Global

Selain lonjakan harga plastik, Disperindag Jawa Tengah juga mencatat adanya penurunan nilai ekspor dalam sebulan terakhir, terutama pada sektor tekstil. Penurunan tersebut dipicu oleh konflik global yang melibatkan Iran, Israel, dan Amerika Serikat.

July Emmylia mengungkapkan, nilai ekspor Jawa Tengah mengalami penurunan sebesar 7,23 persen atau sekitar 300 juta dolar AS, terutama ke pasar Amerika Serikat dan kawasan Timur Tengah.

“Ada penurunan nilai ekspor dari Jawa Tengah, khususnya sektor tekstil. Ini dipengaruhi gangguan distribusi global dan turunnya permintaan dari pasar utama akibat konflik geopolitik,” jelasnya.

Meski demikian, terdapat anomali positif pada ekspor ke Arab Saudi yang justru mengalami peningkatan, terutama untuk kebutuhan pangan jemaah haji.

“Berdasarkan data Surat Keterangan Asal (SKA), permintaan dari wilayah tersebut meningkat, khususnya untuk kebutuhan pangan jemaah haji,” pungkasnya.

Pemerintah pun mendorong pelaku industri untuk melakukan diversifikasi pasar guna mengantisipasi ketidakpastian global, sekaligus menjaga stabilitas ekonomi daerah.


Komentar

Tampilkan

  • Harga Plastik Melonjak Hingga 100 Persen, Pedagang Menjerit, Disperindag Dorong Zero Waste
  • 0

Terkini

Topik Populer