Iklan

Pembukaan Keran Impor Pangan Membunuh Petani

Senin, 02 November 2020, November 02, 2020 WIB Last Updated 2026-04-20T02:29:00Z

 

PANEN PADI TERENDAM AIR HUJAN I Petani memanen padi di lahannya yang terendam air hujan di kawasan rawan banjir di Ngawi, Jawa Timur, Minggu (1/11). Ketidak pastian tingkat harga, cuaca, dan hama, serta kebijakan impor pangan yang dilakukan pemerintah untuk komoditi yang bisa dihasilkan di dalam negeri, membuat generasi muda kurang berminat terjun ke sektor pertanian.

JAKARTA – Ajakan Presiden Joko Widodo (Jokowi) ke kaum milenial un­tuk jadi petani dan target Kementerian Pertanian (Kementan) untuk mencetak 2,5 juta petani muda dalam lima tahun hanya akan jadi mimpi. Bila tidak di­sertai dengan kebijakan menghentikan impor pangan yang diproduksi petani dalam negeri, para calon petani akan berpikir dua kali untuk terjun bertani.

Selain tidak efisien dan kurang men­janjikan, fakta menunjukkan jumlah petani terus menyusut karena dibunuh secara perlahan oleh kebijakan peme­rintah membuka keran impor pangan.

Berdasarkan data Badan Pusat Sta­tistik (BPS), pada 2017, jumlah pekerja di sektor pertanian sebanyak 39,68 juta. Angka tersebut turun menjadi 38,05 juta pekerja pada tahun ini.

Pakar Pertanian dari Institut Perta­nian Bogor (IPB), Dwi Andreas Santosa, Minggu (1/11), menyebutkan dari 17 sektor usaha di Indonesia, pendapatan paling rendah di sektor pertanian. Upah buruh tani sama dengan 62 persen upah buruh bangunan pada Juli lalu.

Dwi, yang juga sebagai Ketua Umum Asosiasi Bank Benih dan Teknologi Tani Indonesia (AB2TI), menjelaskan dari sisi kesejahteraan, nilai tukar petani (NTP) subsektor hortikultura dan peter­nakan juga terendah dalam enam tahun terakhir. Saat pandemi Covid-19, NTP melorot tajam pada Mei ke level 99,47 atau terendah selama 20 tahun terakhir.

Sebab itu, dia meminta pemerintah melindungi harga di tingkat usaha tani. Pasalnya harga pangan yang diatur pe­merintah, malah harganya banyak yang jatuh, sehingga petani makin sengsara.

Jatuhnya harga komoditas pertanian, jelas Dwi, mulai pada tahun 1990-an, saat pemerintah mulai membuka keran impor besar-besaran, seperti bawang putih dan kedelai.

“Dulu, Indonesia swasembada dua komoditas tersebut, tetapi karena keran impor dibuka, petani enggan menanam lagi,” kata Dwi.

Kini, Indonesia mengimpor lebih dari 90 persen bawang putih dan lebih dari 70 persen kedelai. Petani kedua komoditas tersebut ikut hancur.

Untuk tahun ini, sepanjang semes­ter I-2020, RI telah mengimpor bawang putih sebanyak 284,3 ribu ton, atau naik 141 persen dari periode yang sama ta­hun lalu. Sementara impor kedelai pada periode yang sama juga 1,27 juta ton atau senilai 7,52 trilliun rupiah.

Kondisi seperti itu juga yang dikha­watirkan akan dialami petambak garam dan petani gula. Faktanya saat ini juga impor kedua komoditas tersebut jor-joran. “

Lima tahun ke depan petambak ga­ram akan hancur. Terlebih lagi, sistem pangan kita sudah tersambung dengan sistem pangan global. Banyak tarif yang dinolkan,” tukas Dwi.

Tidak Pasti

Sementara itu, Direktur Eksekutif Indef, Tauhid Ahmad, mengatakan se­lain tidak menarik, faktor pendidikan juga memengaruhi berkurangnya minat generasi milenial untuk terjun ke sektor pertanian.

“Jangankan yang lulusan perguruan tinggi, yang tamat SMA saja sudah sedi­kit yang kembali jadi petani, jika orang tuanya petani. Mereka ingin masuk ke sektor yang keuntungannya lebih pasti, tidak seperti sektor pertanian yang ser­ba-tidak pasti, baik tingkat harga, cuaca, maupun hama,” kata Tauhid.

Sebelumnya, Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengajak kalangan muda In­donesia kembali menekuni dunia per­tanian. Sebab, dengan terjunnya kaum milenial ke sektor pertanian akan mem­buat sektor tersebut lebih menjanjikan melalui berbagai inovasi dan kreativitas mereka.

Sentuhan teknologi dan digitalisasi diharapkan bisa membuat data-data di sektor pertanian lebih transparan, mu­lai data produksi, distribusi, hingga kon­sumsi. Dengan demikian, diharapkan bisa menekan impor, bahkan malah me­macu ekspor komoditas pertanian.

Kementerian Pertanian sendiri mengungkapkan bahwa saat dalam jangka panjang konsentrasi menum­buhkan minat anak muda pada sektor pertanian modern. Lembaga tersebut menargetkan mencetak 2,5 juta petani muda dalam jangka waktu lima tahun ke depan.

Upaya tersebut sudah mulai dilaku­kan dengan bekerja sama dengan ke­menterian lain dan perguruan tinggi.

Komentar

Tampilkan

  • Pembukaan Keran Impor Pangan Membunuh Petani
  • 0

Terkini

Topik Populer