Yang terbayang
hanya seorang yang terlalu banyak mencari tahu tentang segala sesuatu,
membawa-bawa kamera, membawa note’s dan menuliskan berita,
bahkan terkesan menyebalkan. Ada satu sisi yang mungkin tidak
tersadarkan di mata masyarakat, satu peran yang tak tersadarkan dari
seorang jurnalistik yaitu pahlawan di balik layar.
Pahlawan identik kuat
dengan perjuangan dan jasa bagi banyak orang atau suatu kejadian yang
bersejarah dan terukir lalu dikenang.
Pahlawan kemerdekaan dengan segala
tumpah darahnya membela negara Indonesia hingga merdekanya. Guru
pahlawan tanpa tanda jasa yang berjuang memepertahanka kualitas
pendidikan bangsa pada pemuda-pemudi calon pemimpin di masa depan dari
masa ke masa.
Seorang polisi, tentara, dokter mereka semua adalah
pahlawan yang terukir di setiap perjuangan mereka.Siapa yang mengukirnya
di mata dunia? Publik pun dapat tahu dan membaca bagaimana detail
perjuangan mereka lewat majalah, koran, Online dan televisi dengan
ringkas dan dapat dijadikan suatu sejarah.. Disinilah mulai terasa
tidaknya peran pahlawan di balik layar bagi para jurnalis yang telah
membawa kisah-kisah dan gambar-gambar sejarah dengan perjuangan seorang
jurnal untuk dikemukakan di muka publik.
Kita semua bisa lihat banyak
perjuangan seorang jurnal yang berjuang mendapatkan informasi penting
bagi masyarakat mulai dari pengorbanan waktu,biaya,tenaga bahkan
nyawa.Melalui tulisan yang mendokumetasi setiap kejadian, terasakah itu
semua bagi publik yang sudah dapat menikmati hasil jerih payah mereka
yang biasanya hanya bertepuk tangan bangga dan memuji hanya dari tampak
depannya saja tanpa bertepuk tangan bagi pejuang yang telah membuat dan
mendapatkan hasil yang membanggakan
dan bernilai guna penting dari karya tulisnya yang
berdasar fakta opini,tentunya butuh perjuangan yang sulit sehinga sampai
di muka publik .
Sadarkah saat setiap orang sedang menonton suatu berita di televisi,
seperti cotohnya berita tentang “Amuk Masa yang Mendemo Depan Gerbang
Gedung Pemerintah”, akankah bisa melihat secara detail saat pendemo
mengamuk dengan melempar batu,membawa benda tajam bahkan senjata api,
terfikirkah bagaimana proses pengambilan gambar pada saat tragedi itu
terjadi sampai ke halayak.
Betapa berbahayanya situasi di tengah amuk
masa yang membabi buta dengan berbagai senjata berbahaya di tangan
mereka. Tetapi siapakah yang turun tangan langsung ke tengah emosi yang
tak terkendali tersebut ? Turun langsung tanpa membawa persenjataan
ataupun pelatihan bela diri di tengah amuk masa hanya untuk memberikan
suatu berita yang berguna bagi masyarakat ? Disinilah peran jurnalistik
sebagai pahlawan.
Jurnalistik yang merekam semua kejadian di tengah
ketidakpuasan masyarakat pada pemimpinnya, jurnalistik yang berusaha
menyampaikan langsung pada para pemimpin yang terduduk pada kursi mereka
yang mendengar suara rakyatnyapun tidak sama sekali karena pengamanan
dan tertutup oleh tembok dan deruh suara mesin penyejuk ruangan mereka
sampai tak bisa mendengar suara rakyatnya di luar sana yang berteriak
menyampaikan aspirasi mereka dengan panas terik matahari yang
menimbulkan emosi dan kekerasan. Jurnalis turun ke tengah mereka,ikut
merasakan, mengambil semua gambaran emosi mereka dan di sampaikan
melalui televisi berita online,koran majalah dan lainnya berharap mereka
yang terduduk itu dapat melihat langsung dan tergoyahkan hatinya.
Terfikirkah betapa bahayanya pengambilan gambar di tengah amuk masa
tersebut ? Terfikirkah betapa perjuangan jurnalistik untuk merangkum
semuanya dengan berbagai teror dari pihak yang merasa dirugikan atas
tindakannya ? Tidak. Padahal dengan adanya berita di
majalah,koran,Online dan televisi dengan jerih payah jurnalistik dapat
mengubah dunia bagi para pembaca ataupun pendengarnya, tapi itu hanya di
balik layar. Seorang jurnalistik yang sesak hatinya saat melihat ada
sesosok anak yang memiliki kemampuan tapi jauh dari dunia pendidikan
yang memadai sering mengangkat kisah anak-anak kurang beruntung hingga
mereka dapat bantuan. Contohnya seperti acara-acara yang membahas kisah
anak negeri di pelosok-plosok nusantara. Jurnalistik akan ke sana
mengikuti seputar perjalanan hidup mereka, merekam dan mencatat hingga
sampai ke mata para dermawan yang dapat membantu. Terfikirkah bagaimana
perjuangan untuk sampai ke pelosok wilayah yang sangat jauh dan tinggal
bersama mereka berbagi cerita dan membantu hingga mereka dapat
mendapatkan hak pendidikan ? Tidak. Pada saat suatu tragedi yang
menghakimi keadilan seseorang di meja hijau, jurnalistik akan
menayangkan kecurangan yang ada di balik semuanya hingga semua orang
dapat menilai dan meihat sampai membantu. Terfikirkah betapa
berbahayanya membela pihak yang benar dari pihak yang salah dan akan
balas dendam ? Tidak. Tidak sedikit para jurnalis yang meninggal saat
mereka sedang menjalankan tugas mereka. Ada yang tertembak di medan
perang saat ingin memberikan informasi keadaan di sana, dan pulang
tinggal nama. Ada yang di hakimi saat mengambil fakta yang seharusnya
dibela. Ada yang dimasukkan ke dalam penjara karena berbagai tuduhan
pelecehan nama baik. Ada yang sampai bertahun-tahun terpisah dari
keluarganya untuk merangkum suatu berita ilmu pengetahuan dan banyak
lagi. Itulah jasa jurnalis yang tidak begitu dirasakan banyak orang.
Pertanyaan kecil, bayangkan dunia tanpa jurnalistik
! Mungkin banyak jurnalis yang nakal dengan tulisannya demi
kedudukan dalam redaksi, karena di
dimensi manapun akan selalu ada hitam dan putih, behati-hatilah,
pena adalah senjata mematikan yang dapat menaklukan dunia sekalipun.
Tulisan, sekedar goresan tinta dari ujung pena di atas secarik kertas,
tapi setiap goresan apabila tidak sekedar goresan,
sebuah tulisan dapat berupa ekspresi, kreativitas, imajinasi,
mungkin tulisan memang hanya sekedar hitam di atas putih tapi bagi tulisan
yang dibuat dengan penyampaian tersendiri,
dapat lebih berwarna dari lukisan, dapat lebih bersuara dari musik,
dapat hidup dan mengubah pola pikir seseorang.
Apa sebenarnya tulisan? Tulisan adalah mimpi,
Tulisan adalah harapan,tulisan adalah emosi, tulisan adalah cinta, tulisan adalah harta Banyak orang bertepuk tangan saat melihat ke depan layar tanpa menoleh ke balik layar. Tapi itulah jurnalistik yang akan selalu menjadi pahlawan di balik layar dan memberikan yang terbaik untuk masyarakat. Cobalah untuk lebih menghargai tulisan.
Tulisan adalah harapan,tulisan adalah emosi, tulisan adalah cinta, tulisan adalah harta Banyak orang bertepuk tangan saat melihat ke depan layar tanpa menoleh ke balik layar. Tapi itulah jurnalistik yang akan selalu menjadi pahlawan di balik layar dan memberikan yang terbaik untuk masyarakat. Cobalah untuk lebih menghargai tulisan.
Syair Muhamad
