LEBAK, (KB).- Tokoh Banten H. Embay Mulya Syarief
menegaskan, Daerah Otonomi Baru (DOB) Cilangkahan merupakan suatu
keniscayaan. Karenanya, salah seorang tokoh pendiri Banten itu
menjadikan DOB Cilangkahan sebagai utang dirinya yang belum terbayar.
”Yang belum selesai perjuangan adalah tinggal pemekaran di Banten
Selatan,” kata H. Embay Mulya Syarief kepada Kabar Banten, di sela-sela
takziah ke almarhum dewan pakar Badan Koordinasi Pembentukan Kabupaten
Cilangkahan (Bakor-PKC) H. Didie Supriyadi, Kamis (12/9/2019).
Embay mengatakan, DOB Cilangkahan merupakan kebutuhan masyarakat,
khususnya di sepuluh Kecamatan Kabupaten Lebak yang masuk wilayah DOB
Cilangkahan. Salah satunya pendekatan pelayanan kepada masyarakat yang
selama ini dihadapkan keluhan terlalu jauhnya rentang kendali ke Ibu
Kota Kabupaten Lebak.
”Kenapa harus membentuk DOB? Karena, untuk mendekatkan pelayanan
kepada masyarakat. Kalau Kabupaten Cilangkahan jadi, warga tinggal ke
Malingping sebagai ibu kota kabupaten,” katanya.
Ia menambahkan, saat ini proses pemekaran untuk daerah baru memang
sedang dilakukan moratorium oleh pemerintah. Jika itu sudah selesai, ia
berjanji akan berjuang bersama warga Banten Selatan agar terbangun
kabupaten baru. ”Kalau sudah selesai moratorium, kita berjuang
sama-sama,” tuturnya.
Embay menceritakan, saat dirinya masih menjadi aktivis pemekaran
Provinsi Banten. Ketika itu berhasil membawa Presiden BJ. Habibie pada
tahun 1999 ke Pesantren Darul Iman di Pandeglang. Pemimpin pesantren dan
dirinya membuat empat permintaan kepada presiden.
Permintaan tersebut adalah Banten menjadi provinsi lepas dari Jawa
Barat, Cilegon menjadi Kotamadya, pembangunan universitas di Banten dan
ada pemekaran daerah selatan. ”Jadi utang saya tinggal satu lagi adalah
tinggal pemekaran di daerah selatan,” ucapnya.
