Iklan

Wilayah Selatan Jawa Berpotensi Gempa Besar

Sabtu, 31 Agustus 2019, Agustus 31, 2019 WIB Last Updated 2026-04-20T02:30:42Z

JAKARTA – Kepala Bidang Mitigasi Gempa Bumi Tsuna­mi, Badan Meteorologi, Klima­tologi, dan Geofisika ( BMKG), Daryono, memperingatkan bahwa zona gempa di selatan Pulau Jawa sangat aktif. Indika­tornya terlihat dari seringnya terjadi gempa skala kecil yang tidak diakhiri dengan gempa utama. Salah satunya terjadi pada 3 Agustus 2019 lalu di Madiun, tepatnya di lempeng Samudera Australia dari Beng­kulu sampai Sumbawa.
“Ini adalah alarm, mengin­gatkan kita bahwa zona gempa di selatan Pulau Jawa sangat aktif. Suatu saat nanti kita bisa jumpai gempa yang besar lebih dari itu karena di sana sudah beberapa kali terjadi gempa kuat,” ujar Daryono dalam kon­ferensi pers di Kantor Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Jakarta, Ju­mat (30/8).
Hasil monitoring BMKG pada Agustus 2019, telah ter­jadi gempa tektonik seban­yak 673 kali. Jumlah terse­but mengalami penurunan dibanding Juli 2019 yang gem­panya terjadi 841 kali. Gempa berskala besar di selatan Pulau Jawa, lanjut Daryono, sudah terjadi sejak bertahun-tahun silam, antara lain tahun 1903, 1943 di selatan Yogyakarta, gempa 1964, dan tahun 2006 di Yogyakarta.
Oleh karena itu, kawasan itu sangat mungkin berhada­pan dengan gempa-gempa be­sar sehingga masyarakat perlu menyiapkan diri.
“Selatan Pulau Jawa sangat mungkin berhadapan dengan gempa-gempa besar sehing­ga masyarakat harus sangat siap. Kita jangan abai,” ujar Daryono.
Masyarakat harus disosia­lisasikan agar bangun rumah tahan gempa. Solusi gempa bumi hanya satu, bagaimana kita tinggal di rumah yang kuat. Tidak hanya itu, masyarakat juga diminta waspada dengan aktivitas gempa, khususnya di selatan Cilacap, Pangandaran, dan Banyuwangi.
Meski demikian, Daryono meminta agar masyarakat ti­dak cemas berlebihan mengin­gat aktivitas gempa suatu zona tidak mesti berujung dengan gempa besar.
“Meski gempa besar pasti didahului gempa-gempa ke­cil, tetap waspada, tidak usah percaya isu. Jika tidak ada per­ingatan tsunami, tidak perlu mengungsi. Jika gempa be­sar banget di pantai, silakan mengungsi,” kata dia.
Puncak Kemarau
Di tempat yang sama, Ke­pala Sub Bidang Analisis dan Informasi Iklim BMKG, Adi Ripald, memprediksi puncak musim kemarau akan ber­langsung Agustus–September 2019. Adi mengatakan, saat ini wilayah Indonesia 97 persen­nya sedang mengalami musim kemarau.
“Agustus musim kemarau. Agustus–September ini pun­cak musim kemarau, 97 persen musim kemarau,” ujar Adi.
Berdasarkan hasil moni­toring BMKG di pos-pos hu­jan di seluruh kecamatan di Indonesia, kemarau paling ekstrem tersebar dari wilayah Jawa, Bali, dan Nusa Tengga­ra. Di wilayah-wilayah terse­but sudah tidak ada hujan selama dua bulan sepanjang 2019 ini.
“Data kami mulai dari Bant­en, Jawa Tengah, Jawa Barat, DIY, NTB, NTT. Di NTT ada satu wilayah yang lebih dari 100 hari tidak ada hujan, ada satu kecamatan yang 157 hari tidak hujan. 5–4 bulan tidak ada hujan,” kata dia.
Adi menegaskan dampak dari tidak turunnya hujan yang cukup panjang ini membuat kekeringan ekstrem berstatus awas terjadi, antara lain ter­jadi di Lampung, Jawa, Banten, Jawa Barat, Jakarta Utara, Jawa Tengah, DIY, Bali, dan Nusa Tenggara.
Komentar

Tampilkan

  • Wilayah Selatan Jawa Berpotensi Gempa Besar
  • 0

Terkini

Topik Populer