JAKARTA, KONTAK BANTEN — Eskalasi konflik di Timur Tengah kembali meningkat tajam setelah Iran melancarkan serangan rudal besar-besaran ke wilayah pusat Israel dalam operasi militer bertajuk “True Promise 4”, Rabu (1/4/2026) waktu setempat.
Korps Garda Revolusi Islam atau Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC) mengonfirmasi bahwa serangan tersebut merupakan gelombang ke-89 yang secara khusus menyasar pusat ekonomi dan militer Israel.
Serangan Rudal Presisi Tinggi
Dalam pernyataan resminya, IRGC menyebutkan bahwa operasi ini melibatkan sejumlah rudal balistik canggih, seperti Qiam, Emad, dan Qadr yang memiliki tingkat akurasi tinggi serta kemampuan membawa hulu ledak ganda.
Serangan dilaporkan menghantam sejumlah wilayah strategis di sekitar Tel Aviv, termasuk Ramat Gan, Holon, Palmachim, dan Bnei Brak.
Otoritas Iran mengklaim serangan tersebut menciptakan fenomena “tenda api” di langit wilayah tersebut, sementara sirine peringatan serangan udara berbunyi tanpa henti, memaksa jutaan warga berlindung di bunker bawah tanah.
“Pusat wilayah pendudukan berguncang hebat. Kami menggunakan cadangan senjata yang selama ini belum tersentuh dan akan terus dikerahkan secara bertahap,” demikian pernyataan IRGC.
Akar Eskalasi Konflik
Ketegangan antara Iran dan Israel meningkat drastis setelah insiden pada 28 Februari 2026 yang menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei, bersama sejumlah pejabat militer senior.
Peristiwa tersebut memicu serangkaian serangan balasan dari Iran terhadap target militer Israel dan Amerika Serikat, sekaligus memperluas konflik ke berbagai titik strategis di kawasan Timur Tengah.
Dampak dan Situasi Terkini
Hingga saat ini, belum ada laporan resmi terkait jumlah korban jiwa di pihak Israel. Namun, kerusakan infrastruktur di wilayah penyangga Tel Aviv dilaporkan cukup signifikan akibat hantaman rudal presisi.
Sementara itu, sistem pertahanan udara Israel terus bekerja maksimal untuk menghadapi serangan yang datang dari berbagai arah.
Analis militer memprediksi intensitas konflik masih akan terus meningkat dalam waktu dekat, mengingat Iran menyatakan masih memiliki cadangan persenjataan strategis yang siap digunakan.
Situasi ini juga berpotensi memicu ketegangan global yang lebih luas, terutama dengan keterlibatan Amerika Serikat dalam konflik tersebut.
