Iklan

Indonesia Desak PBB Evaluasi Keselamatan Pasukan Perdamaian Usai Gugurnya Prajurit TNI di Lebanon

Minggu, 05 April 2026, April 05, 2026 WIB Last Updated 2026-04-20T02:30:14Z
Indonesia mendesak Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk melakukan evaluasi menyeluruh terhadap aspek keamanan pasukan perdamaian, menyusul gugurnya tiga prajurit TNI dalam misi UNIFIL di Lebanon. Desakan ini menjadi langkah penting untuk menjamin kesela (AntaraNews)




JAKARTA – KONTAK BANTEN Pemerintah Indonesia mendorong Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk melakukan evaluasi menyeluruh terhadap aspek keselamatan pasukan penjaga perdamaian di berbagai wilayah penugasan, khususnya dalam misi United Nations Interim Force in Lebanon (UNIFIL) di Lebanon.
Desakan tersebut disampaikan Menteri Luar Negeri RI, Sugiono, menyusul gugurnya tiga prajurit TNI saat menjalankan tugas dalam misi perdamaian dunia tersebut.
“Kita sekali lagi berupaya agar pasukan penjaga perdamaian kita diberi perlindungan, agar pasukan kita sehat dan selamat dalam menjalankan tugas yang diembankan kepada mereka,” ujar Sugiono di Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Sabtu (4/4/2026).
Duka Mendalam untuk Prajurit Gugur
Pemerintah Indonesia juga menyampaikan duka cita mendalam atas gugurnya tiga personel penjaga perdamaian, yakni:
Mayor Inf. (Anumerta) Zulmi Aditya Iskandar
Serka (Anumerta) Muhammad Nur Ichwan
Kopda (Anumerta) Farizal Rhomadhon
Sugiono menyampaikan belasungkawa kepada keluarga yang ditinggalkan serta mendoakan para prajurit yang gugur.
“Kita semua mengucapkan duka cita yang sedalam-dalamnya bagi keluarga yang ditinggalkan. Semoga para kusuma bangsa ini diterima di sisi Tuhan Yang Maha Kuasa, dan keluarga diberikan kekuatan serta kesabaran,” katanya.
Tiga Prajurit Terluka, Insiden Masih Diselidiki
Selain korban jiwa, Kementerian Luar Negeri juga menerima laporan adanya tiga prajurit TNI lainnya yang mengalami luka-luka dalam insiden tersebut.
Menurut Sugiono, penyebab kejadian masih dalam proses investigasi oleh pihak UNIFIL, termasuk kaitannya dengan dua insiden sebelumnya yang terjadi di wilayah penugasan.
Indonesia Dorong Rapat Dewan Keamanan PBB
Sebagai respons atas insiden tersebut, pemerintah Indonesia melalui perwakilan tetap di New York telah mengambil langkah diplomatik dengan meminta Dewan Keamanan PBB menggelar rapat darurat.
Permintaan tersebut mendapat dukungan dari Prancis selaku penanggung jawab (penholder) isu Lebanon di Dewan Keamanan.
Dalam rapat tersebut, Indonesia menyampaikan dua tuntutan utama, yakni mengutuk keras serangan terhadap pasukan penjaga perdamaian serta mendesak dilakukannya investigasi menyeluruh.
“Ini adalah misi penjaga perdamaian, sehingga serangan terhadap mereka tidak dapat dibenarkan dalam kondisi apa pun,” tegas Sugiono.
Tekankan Mandat Pasukan Perdamaian
Sugiono juga menekankan bahwa pasukan penjaga perdamaian memiliki mandat yang berbeda dari pasukan tempur.
“They are peacekeeping, not peacemaking. Mereka tidak dilengkapi kemampuan untuk melakukan operasi tempur. Perlengkapan dan pelatihan mereka ditujukan untuk menjaga situasi damai sesuai mandat PBB,” jelasnya.
Komitmen Indonesia untuk Perdamaian Dunia
Langkah diplomatik yang diambil Indonesia menjadi sinyal kuat bahwa pemerintah tidak hanya berduka, tetapi juga aktif mendorong perubahan dalam sistem perlindungan pasukan perdamaian.
Pengorbanan para prajurit, menurut pemerintah, tidak boleh sia-sia. Negara memastikan akan terus hadir untuk melindungi setiap personel TNI yang bertugas, baik di dalam maupun luar negeri.
KONTAK BANTEN mencatat, di tengah duka yang mendalam, komitmen Indonesia terhadap perdamaian dunia tetap teguh, dengan upaya memperkuat perlindungan bagi para penjaga perdamaian di garis depan konflik global.
Komentar

Tampilkan

  • Indonesia Desak PBB Evaluasi Keselamatan Pasukan Perdamaian Usai Gugurnya Prajurit TNI di Lebanon
  • 0

Terkini

Topik Populer