Iklan

Desakan Evaluasi UNIFIL Menguat, DPR Dukung Opsi Penarikan Pasukan TNI dari Lebanon

Selasa, 07 April 2026, April 07, 2026 WIB Last Updated 2026-04-20T02:29:27Z


 

 

JAKARTA KONTAK BANTEN – Desakan evaluasi terhadap keterlibatan pasukan perdamaian Indonesia dalam misi United Nations Interim Force in Lebanon (UNIFIL) semakin menguat. Wakil Ketua Komisi I DPR RI Anton Sukartono Suratto menegaskan bahwa penugasan prajurit TNI di Lebanon bukan untuk berperang, melainkan menjalankan mandat perdamaian.

Pernyataan tersebut disampaikan menyusul gugurnya tiga prajurit TNI dalam insiden serangan di wilayah Lebanon Selatan, yang saat ini tengah dilanda eskalasi konflik.

Anton menyatakan dukungannya terhadap usulan Presiden RI ke-6 Susilo Bambang Yudhoyono yang meminta Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) segera melakukan evaluasi menyeluruh terhadap misi UNIFIL.

“Pasukan Indonesia hadir bukan untuk berperang, melainkan menjaga stabilitas dan mendukung proses perdamaian. Seharusnya, pasukan penjaga perdamaian ditempatkan di wilayah pascakonflik, bukan di tengah konflik aktif,” ujar Anton kepada wartawan, Senin (6/4/2026).

Menurutnya, kondisi keamanan di Lebanon Selatan saat ini semakin memburuk, terutama di wilayah “Blue Line”, yaitu zona pemisah antara Israel dan Lebanon yang kini berada dekat dengan titik pertempuran aktif.

Situasi tersebut dinilai sangat berisiko bagi keselamatan pasukan perdamaian, termasuk kontingen Indonesia yang tergabung dalam UNIFIL.

Anton menekankan pentingnya langkah cepat dan tegas dari PBB, baik dalam bentuk evaluasi menyeluruh, pemindahan lokasi penugasan ke wilayah yang lebih aman, hingga opsi penghentian sementara misi.

“Keselamatan prajurit adalah prioritas utama. Evaluasi komprehensif perlu segera dilakukan, termasuk membuka opsi penarikan pasukan sebagai bentuk tanggung jawab negara,” tegasnya.

Ia juga mengingatkan bahwa berdasarkan prinsip hukum humaniter internasional, pasukan penjaga perdamaian memiliki status yang wajib dilindungi dan tidak boleh menjadi target operasi militer.

Karena itu, pemerintah Indonesia diminta tidak ragu mengambil langkah strategis demi melindungi prajurit yang bertugas di luar negeri.

Sementara itu, Susilo Bambang Yudhoyono sebelumnya telah menyampaikan duka cita mendalam atas gugurnya tiga prajurit TNI dalam misi perdamaian di Lebanon.

Melalui pernyataan di media sosial X, SBY menilai kondisi penugasan di kawasan tersebut sangat berbahaya karena berada di wilayah konflik aktif.

Ia mendesak PBB untuk segera mengambil keputusan tegas, termasuk kemungkinan menghentikan atau memindahkan misi UNIFIL dari area berisiko tinggi.

Selain itu, SBY juga menekankan pentingnya investigasi menyeluruh terhadap insiden yang menewaskan prajurit Indonesia, meskipun situasi konflik di lapangan sangat dinamis.

“Investigasi harus tetap dilakukan agar diperoleh penjelasan yang dapat dipertanggungjawabkan,” ujarnya.

Hingga saat ini, pemerintah Indonesia melalui otoritas terkait masih melakukan koordinasi dengan PBB serta memantau perkembangan situasi keamanan di Lebanon guna menentukan langkah lanjutan terkait keterlibatan TNI dalam misi UNIFIL.

Komentar

Tampilkan

  • Desakan Evaluasi UNIFIL Menguat, DPR Dukung Opsi Penarikan Pasukan TNI dari Lebanon
  • 0

Terkini

Topik Populer