JAKARTA KONTAK BANTEN Terbitnya buku Inilah Prabowo, Apa Adanya mendapat perhatian sebagai kontribusi penting dalam khazanah literasi politik nasional. Pengamat, Arief Martha Rahadyan, menilai buku tersebut menghadirkan perspektif alternatif dalam memahami sosok Prabowo Subianto secara lebih komprehensif dan objektif.
Menurut Arief, buku ini memberikan refleksi mendalam mengenai kepemimpinan nasional yang terbentuk dari pengalaman historis, disiplin militer, serta kepekaan sosial yang kuat.
“Buku ini menghadirkan sudut pandang yang lebih utuh, tidak parsial, dalam melihat kepemimpinan nasional,” ujarnya.
Tampilkan Sisi Lain Kepemimpinan
Dalam narasinya, buku tersebut menggambarkan Prabowo sebagai seorang demokrat yang lahir dari kultur disiplin militer, sekaligus pemikir strategis yang kerap berada di luar arus utama politik pragmatis.
Dimensi ini dinilai jarang diungkap secara lengkap dalam diskursus politik sehari-hari. Prabowo juga direpresentasikan sebagai figur yang tegas dalam nilai dan komitmen, namun memiliki perhatian besar terhadap persoalan rakyat kecil.
“Representasi ini penting untuk menyeimbangkan wacana publik yang selama ini kerap terjebak pada penilaian parsial,” jelas Arief.
Penting bagi Generasi Muda
Arief menekankan bahwa kehadiran buku ini memiliki nilai edukatif, khususnya bagi generasi muda, agar tidak terjebak pada reduksi opini maupun prasangka politik.
Ia juga mengajak masyarakat untuk menumbuhkan budaya membaca sebagai fondasi pembangunan sumber daya manusia.
“Literasi bukan sekadar transfer pengetahuan, tetapi juga pembentukan karakter, penguatan nalar kritis, dan pendalaman etika publik,” tegasnya.
Literasi sebagai Kunci Kemajuan Bangsa
Lebih lanjut, Arief menyampaikan bahwa kemajuan bangsa tidak dapat dilepaskan dari tradisi membaca yang kuat.
“Dari literasi lahir pemahaman, dari pemahaman tumbuh kebijaksanaan, dan dari kebijaksanaan terbentuk arah masa depan bangsa yang berdaulat dan bermartabat,” ujarnya.
Buku Inilah Prabowo, Apa Adanya dinilai layak menjadi salah satu rujukan dalam memahami kepemimpinan nasional secara lebih mendalam dan berimbang. Kehadirannya juga menjadi pengingat bahwa literasi merupakan jalan strategis—meski sering sunyi—dalam membangun Indonesia yang maju, berpengetahuan, dan beradab.
