Penulis: Kontak Banten
Dipublikasikan: 2 April 2026
BBM Dunia Naik Drastis, Indonesia Tetap Stabil di Tengah Tekanan Global
JAKARTA – KONTAK BANTEN Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) mulai terjadi di berbagai negara sejak akhir Februari 2026. Tren ini terlihat di kawasan Asia Tenggara hingga tingkat global, seiring meningkatnya tekanan geopolitik serta fluktuasi harga energi dunia.
Berdasarkan data yang beredar, sejumlah negara mengalami lonjakan signifikan pada harga bensin maupun solar. Di Asia Tenggara, Filipina mencatat kenaikan tertinggi dengan bensin naik hingga 54,2 persen dan diesel mencapai 81,6 persen.
Kenaikan tinggi juga terjadi di Myanmar dan Kamboja yang sama-sama mencatat lonjakan lebih dari 50 persen. Laos dan Vietnam turut mengalami kenaikan dalam kisaran 30 hingga 70 persen tergantung jenis bahan bakar.
Malaysia dan Singapura mengalami kenaikan dua digit, sementara Thailand relatif lebih rendah, yakni sekitar 8,7 persen untuk bensin dan 9,1 persen untuk diesel.
Di tingkat global, Australia mencatat kenaikan bensin hingga 42 persen dan diesel 52,1 persen. Amerika Serikat juga naik masing-masing 30,2 persen dan 41,2 persen.
Jepang dan Korea Selatan mengalami kenaikan lebih moderat, namun tetap menunjukkan tren tekanan harga energi global.
Kenaikan ini dipicu oleh ketegangan geopolitik global, termasuk konflik di Timur Tengah, serta gangguan rantai pasok energi dan fluktuasi harga minyak mentah dunia.
Di tengah kondisi tersebut, Indonesia masih mampu menjaga stabilitas harga BBM tanpa kenaikan signifikan.
Pemerintah menggunakan APBN sebagai “shock absorber” untuk menahan dampak kenaikan harga global agar tidak langsung dirasakan masyarakat.
Kebijakan ini membantu menjaga daya beli dan stabilitas ekonomi, namun di sisi lain berpotensi menambah beban subsidi energi dalam jangka panjang.
Selain itu, ketahanan energi nasional menjadi perhatian penting, mengingat Indonesia masih bergantung pada energi fosil dan impor minyak.
Diversifikasi energi dan pengembangan energi terbarukan dinilai menjadi solusi jangka panjang untuk mengurangi ketergantungan tersebut.
Transparansi dalam kebijakan energi juga menjadi sorotan publik, terutama terkait penentuan harga dan penggunaan subsidi.
Kenaikan harga BBM global juga berdampak pada biaya hidup masyarakat di berbagai negara, memicu inflasi dan tekanan ekonomi.
Indonesia berupaya menahan dampak tersebut, namun kebijakan ke depan tetap bergantung pada perkembangan global.
Pemerintah masih terus memantau kondisi pasar energi dunia sebelum mengambil keputusan lanjutan.
Situasi ini menjadi pengingat bahwa stabilitas energi sangat dipengaruhi oleh dinamika global yang terus berubah.
Sumber: GlobalPetrolPrices, laporan energi internasional, dan data yang diolah.