Teheran, Iran — Situasi keamanan bagi jurnalis di Iran dilaporkan semakin memburuk setelah eskalasi konflik bersenjata antara Iran dengan Amerika Serikat dan Israel sejak akhir Februari 2026. Sejumlah laporan dari organisasi pemantau pers dan media internasional menunjukkan bahwa serangan udara, pembatasan internet, serta kerusakan fasilitas media telah menghambat kerja jurnalistik di negara tersebut.
Menurut laporan dari Committee to Protect Journalists (CPJ), setidaknya dua jurnalis dilaporkan tewas dan sejumlah kantor media rusak akibat serangan udara sejak konflik terbaru pecah. Selain itu, beberapa wartawan juga dilaporkan mengalami penahanan atau pemeriksaan oleh otoritas setempat.
Jurnalis Tewas dan Kantor Media Rusak
Serangan udara yang terjadi di berbagai wilayah Iran juga berdampak pada fasilitas media. Salah satu serangan dilaporkan mengenai kantor radio pemerintah di Dezful, Provinsi Khuzestan, yang menjadi target pada hari pertama konflik.
Selain itu, beberapa laporan menyebutkan kompleks studio televisi di Teheran turut terkena dampak serangan udara, memicu kecaman dari otoritas media Iran yang menilai fasilitas media tidak seharusnya menjadi target militer.
Organisasi kebebasan pers internasional menyerukan agar semua pihak dalam konflik menghormati hukum humaniter internasional dan menjamin keselamatan jurnalis di wilayah konflik.
Siaran Langsung di Tengah Ledakan
Di tengah situasi yang semakin mencekam, sebuah video yang viral di media sosial memperlihatkan seorang jurnalis televisi pemerintah Iran tetap melanjutkan siaran langsung ketika suara ledakan terdengar di sekitar kawasan Hor Square, Teheran. Dalam rekaman tersebut, asap terlihat membumbung di latar belakang saat reporter melaporkan perkembangan serangan udara.
Peristiwa itu menggambarkan tingginya risiko yang dihadapi jurnalis yang tetap bekerja di lapangan selama konflik berlangsung.
Kematian Pemimpin Tertinggi Iran
Ketegangan regional meningkat tajam setelah kematian pemimpin tertinggi Iran, Ali Khamenei, yang dilaporkan tewas pada 28 Februari 2026 akibat serangan udara gabungan Amerika Serikat dan Israel di Teheran. Kematian Khamenei menjadi salah satu peristiwa paling signifikan dalam konflik tersebut dan memicu gelombang serangan balasan dari Iran terhadap target militer di kawasan Timur Tengah.
Serangan tersebut juga dilaporkan menewaskan sejumlah pejabat militer senior Iran dalam operasi yang menargetkan kepemimpinan strategis negara itu.
Kesaksian Jurnalis Lokal
Beberapa jurnalis Iran turut menggambarkan situasi mencekam di ibu kota. Salah satunya adalah jurnalis Iran, Elaheh Mohammadi, yang melalui media sosial menggambarkan kondisi Teheran sebagai “kota yang berbau kematian” akibat intensitas serangan udara dan ketegangan yang terus meningkat.
Internet Diputus dan Informasi Terbatas
Di tengah konflik, pemerintah Iran juga dilaporkan melakukan pemutusan akses internet secara nasional pada hari pertama serangan. Tingkat konektivitas internet di negara itu sempat turun drastis hingga hanya sekitar 1 persen dari kondisi normal, sehingga menyulitkan jurnalis untuk mengirimkan laporan atau berkomunikasi dengan dunia luar.
Ketegangan Internal Media
Sebelum eskalasi konflik besar ini, media Iran juga sempat dilanda ketegangan internal. Seorang direktur televisi negara dilaporkan dipecat setelah seorang reporter menyampaikan pernyataan yang dianggap menentang pemimpin tertinggi Iran dalam siaran.
Peristiwa tersebut menyoroti tekanan politik yang dihadapi media domestik Iran bahkan sebelum konflik militer meningkat.
Seruan Perlindungan Jurnalis
Organisasi kebebasan pers internasional mendesak semua pihak yang terlibat dalam konflik untuk memastikan keselamatan jurnalis dan menghormati peran media sebagai penyampai informasi publik.
“Serangan terhadap jurnalis dan media harus dihentikan segera,” kata perwakilan CPJ dalam pernyataan resminya.
Dengan konflik yang terus berlangsung dan kondisi keamanan yang tidak stabil, para jurnalis di Iran kini menghadapi risiko tinggi dalam menjalankan tugas mereka melaporkan situasi perang kepada dunia.
