![]() |
Kebakaran melanda gedung Kedutaan Besar AS di Riyadh, Arab Saudi, akibat dugaan serangan drone Iran. (Foto: Sosial media/ X / @cocodaonly1) |
ARAB SAUDI KONTAK BANTEN Konflik antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel memasuki babak baru setelah serangan drone menghantam Kedutaan Besar AS di Riyadh, Arab Saudi, Selasa dini hari waktu setempat. Insiden ini terjadi saat Washington dan Tel Aviv terus menggempur sejumlah target militer dan infrastruktur strategis Iran.
Kementerian Pertahanan Arab Saudi menyatakan dua drone menyerang kompleks diplomatik tersebut. Serangan itu memicu kebakaran terbatas dan menyebabkan kerusakan ringan. Pihak Kedutaan Besar AS di Riyadh mengonfirmasi insiden tersebut dan meminta warga Amerika menghindari area diplomatik untuk sementara waktu.
Sehari sebelumnya, Kedutaan Besar AS di Kuwait juga dilaporkan menjadi sasaran serangan. Rentetan aksi balasan ini memperlihatkan bahwa konflik tidak lagi terbatas pada wilayah Iran dan Israel, tetapi telah meluas ke negara-negara Teluk.
Di tengah eskalasi, Departemen Luar Negeri AS memerintahkan evakuasi personel non-darurat dan keluarga diplomat dari Bahrain dan Yordania. Pemerintah AS juga mendesak warganya meninggalkan lebih dari selusin negara di Timur Tengah karena risiko keamanan yang meningkat.
Presiden AS Donald Trump menyatakan operasi militer terhadap Iran dapat berlangsung empat hingga lima pekan dan tidak menutup kemungkinan diperpanjang. Menteri Luar Negeri Marco Rubio menegaskan serangan militer AS masih akan berlanjut dan menyebut gelombang serangan terberat belum dilancarkan.
Korban Jiwa Terus Bertambah
Bulan Sabit Merah Iran melaporkan sedikitnya 555 orang tewas akibat operasi militer gabungan AS dan Israel. Di Israel, serangan rudal Iran menewaskan 11 orang. Sementara itu, serangan balasan Israel terhadap kelompok Hezbollah di Lebanon menewaskan puluhan orang.
Militer AS juga mengonfirmasi enam prajuritnya tewas di Kuwait. Mereka merupakan anggota unit logistik Angkatan Darat. Di Uni Emirat Arab dilaporkan tiga korban jiwa, serta masing-masing satu orang di Kuwait dan Bahrain.
Direktur Jenderal Organisasi Internasional untuk Migrasi, Amy Pope, memperingatkan bahwa eskalasi militer akan memicu gelombang pengungsian baru. Jutaan warga di kawasan tersebut sebelumnya telah mengungsi akibat konflik berkepanjangan.
Serangan ke Fasilitas Energi dan Nuklir
Iran memperluas target serangannya ke fasilitas energi di Qatar dan Arab Saudi serta menyerang sejumlah kapal di Selat Hormuz. Jalur ini menjadi titik vital perdagangan global karena sekitar seperlima pasokan minyak dunia melintas di sana. Serangan tersebut mendorong lonjakan harga minyak dan gas alam di pasar internasional.
Di sisi lain, Iran menyatakan serangan udara juga menargetkan fasilitas nuklir Natanz. Duta Besar Iran untuk Badan Energi Atom Internasional menyebut lokasi pengayaan uranium itu menjadi sasaran serangan udara pada Minggu. Hingga kini, Washington dan Tel Aviv belum secara terbuka mengakui serangan tersebut.
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyatakan pihaknya menargetkan kepemimpinan dan infrastruktur nuklir Iran. Ia menuduh Teheran membangun kembali fasilitas bawah tanah untuk mengembangkan senjata atom, meskipun tidak menyertakan bukti rinci.
Iran membantah tengah mengembangkan senjata nuklir dan menegaskan programnya bersifat damai. Teheran juga menyatakan tidak melakukan pengayaan uranium sejak Juni, tetapi tetap mempertahankan haknya untuk mengembangkan teknologi nuklir untuk tujuan sipil.
Ketegangan turut melibatkan kelompok bersenjata sekutu Iran di kawasan. Hezbollah di Lebanon meluncurkan rudal dan drone ke wilayah Israel, yang kemudian dibalas dengan serangan udara intensif di Beirut dan wilayah selatan Lebanon. Kementerian Kesehatan Lebanon mencatat sedikitnya 52 orang tewas dan lebih dari 150 lainnya luka-luka dalam serangan terbaru.
Militer Israel menyatakan semua opsi terbuka, termasuk kemungkinan operasi darat. Di Irak, kelompok milisi yang berafiliasi dengan Iran juga mengklaim menyerang fasilitas militer AS.
Situasi semakin rumit ketika militer AS mengungkap bahwa sistem pertahanan Kuwait secara tidak sengaja menembak jatuh tiga jet tempur Amerika di tengah serangan udara Iran. Seluruh pilot dilaporkan berhasil menyelamatkan diri.
Tanpa Rencana Keluar yang Jelas
Hingga kini belum terlihat jalur diplomasi yang konkret untuk menghentikan konflik. Intensitas serangan dan perluasan medan pertempuran menunjukkan potensi perang berkepanjangan dengan dampak luas terhadap stabilitas regional dan ekonomi global.
Ketika rudal dan drone terus melintas di langit Teluk, jutaan warga sipil berada dalam ketidakpastian. Eskalasi ini tidak hanya menguji kekuatan militer negara-negara yang terlibat, tetapi juga menguji ketahanan kawasan yang selama ini menjadi pusat energi dunia.
