WASHINGTON — Gelombang demonstrasi besar-besaran mengguncang Amerika Serikat saat jutaan warga turun ke jalan dalam aksi bertajuk “No Kings” pada Sabtu (28/3/2026) waktu setempat. Aksi ini disebut sebagai salah satu protes terbesar dalam sejarah modern negara tersebut, dengan partisipasi mencapai jutaan orang di berbagai wilayah.
Demonstrasi tersebut merupakan bentuk penolakan terhadap kebijakan Presiden Donald Trump, baik di dalam negeri maupun terkait kebijakan luar negeri, khususnya konflik yang melibatkan Iran.
Koalisi penyelenggara menyebutkan, sedikitnya 8 juta warga ikut ambil bagian dalam aksi yang digelar serentak di lebih dari 3.300 titik di seluruh 50 negara bagian. Angka tersebut bahkan diproyeksikan masih bisa bertambah hingga melampaui 9 juta peserta.
“Kami mencatat 8 juta peserta yang hadir, dan kami menargetkan lebih dari 9 juta,” ujar perwakilan Koalisi No Kings dalam keterangannya, Minggu (29/3/2026).
Aksi Serentak di Kota-Kota Besar
Aksi “No Kings” berlangsung di berbagai kota besar seperti New York, Los Angeles, Chicago, hingga ibu kota Washington, D.C.. Massa memadati jalan-jalan utama sambil membawa poster, spanduk, serta meneriakkan berbagai tuntutan.
Salah satu seruan yang paling banyak menggema adalah “End this war” atau “Hentikan perang ini”, yang menjadi simbol penolakan terhadap keterlibatan Amerika Serikat dalam konflik di Iran.
Selain itu, demonstran juga mengangkat isu-isu lain seperti kebijakan imigrasi, kondisi ekonomi, serta kebebasan sipil. Banyak peserta aksi menilai kebijakan pemerintah saat ini semakin menjauh dari prinsip demokrasi.
Dipicu Kombinasi Krisis
Gelombang protes ini tidak terjadi secara tiba-tiba. Sejumlah faktor menjadi pemicu utama, di antaranya:
- Eskalasi konflik militer antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran yang telah berlangsung selama beberapa pekan
- Kebijakan imigrasi yang dinilai semakin ketat dan kontroversial
- Lonjakan harga minyak dan kebutuhan pokok yang berdampak langsung pada masyarakat
- Meningkatnya ketidakpuasan publik terhadap pemerintahan
Kombinasi faktor tersebut memicu akumulasi kekecewaan masyarakat yang akhirnya memuncak dalam aksi unjuk rasa berskala nasional.
Tingkat Kepuasan Trump Menurun
Di tengah gelombang demonstrasi, tingkat kepuasan publik terhadap Presiden Donald Trump dilaporkan mengalami penurunan signifikan. Survei terbaru menunjukkan tingkat persetujuan hanya berada di angka 36 persen.
Angka ini mencerminkan meningkatnya kritik terhadap arah kebijakan pemerintah, terutama dalam menangani isu ekonomi dan konflik internasional.
Tekanan Politik Meningkat
Pengamat menilai, aksi “No Kings” menjadi sinyal kuat meningkatnya tekanan politik terhadap pemerintah. Skala demonstrasi yang masif menunjukkan bahwa ketidakpuasan publik telah meluas dan tidak lagi terbatas pada kelompok tertentu.
Meski demikian, hingga saat ini belum ada laporan resmi terkait insiden besar selama aksi berlangsung. Aparat keamanan tetap disiagakan di sejumlah titik untuk mengantisipasi potensi kericuhan.
Aksi ini diperkirakan tidak akan menjadi yang terakhir, mengingat dinamika politik dan situasi global yang masih berkembang. Demonstrasi lanjutan berpotensi terjadi jika tuntutan publik tidak segera direspons oleh pemerintah.
