![]() |
| Wali Kota Tangerang Selatan Airin Rachmi Diany dalam talkshow Peluncuran Buku Pedoman Perubahan Perilaku Penanganan Covid-19 di Media Center Satgas Covid-19, Graha BNPB, Jakarta |
JAKARTA - Masyarakat sudah mengetahui perilaku 3M yaitu memakai masker , menjaga jarak hindari kerumunan, dan mencuci tangan pakai sabun di air mengalir.Namun bagaimana pengetahuan tentang protokol kesehatan dengan mematuhi
dan menerapkan perilaku untuk selalu 3M di masa pandemi Covid-19 (virus
Corona) ini dalam kehidupan sehari-hari, rupanya, masih menjadi
pekerjaan rumah bersama.Demikian dikatakan Wali Kota Tangerang Selatan Airin Rachmi Diany dalam
talkshow "Peluncuran Buku Pedoman Perubahan Perilaku Penanganan
Covid-19” di Media Center Satgas Covid-19, Graha BNPB, Jakarta.
Airin
menceritakan pengalamannya tujuh bulan memimpin masyarakat dalam
situasi pandemi. Kedisiplinan masyarakat menerapkan protokol kesehatan
itu harusnya menjadi kebutuhan bukan lagi kewajiban karena perintah
undang-undang.
"Kalau sudah jadi kebutuhan, ada atau tidak ada
polisi dan tentara, masyarakat tetap pakai masker. Bukan karena ada
razia masker baru pakai," ujar Wali Kota Airin yang menjadi orang
pertama yang menerima buku 'Pedoman Perubahan Perilaku Penanganan
Covid-19' yang diterbitkan oleh Satgas Penanganan Covid-19 ini yang
dikutip Sindo Media dari laman Satgas Covid-19, Sabtu (17/10/2020). Airin menjelaskan, masyarakat sudah tahu 3M dan seperti apa menuju
tatanan adaptasi kebiasaan baru. Tapi bagaimana menjalankan pengetahuan
tentang protokol kesehatan sebagai kebutuhan dan kebiasaan ini yang
perlu dilakukan. Dan ini, kata Airin, menjadi tugas besar kita bersama
di lapangan agar masyarakat mengubah perilaku dengan terbiasa menerapkan
protokol kesehatan. "Ini PR (pekerjaan rumah) di lapangan agar masyarakat bisa terbiasa.
Semoga buku yang disusun ini bisa memudahkan masyarakat dalam menerapkan
kebiasaan baru ini," ungkap Airin.
Sementara itu, Ketua Satgas
Penanganan Covid-19 Provinsi Jawa Timur dr. Joni Wahyuhadi, mengatakan
pihaknya melakukan survei selama empat bulan di masa pandemi. Hasilnya
pengetahuan masyarakat tentang Covid-19 cukup, perilaku baik, tapi dalam
implementasinya tidak selalu baik.
Perubahan perilaku terhadap
ketaatan protokol kesehatan, kata Joni melalui Zoom, tidak cukup hanya
sebatas tahu dan mengerti. "Maka protokol kesehatan ditegakkan dengan
melibatkan polisi dan tentara untuk menggelar operasi yustisi," kata dr
Joni dari Kantor Gubernur Jawa Timur di Surabaya.
Deputi Bidang
Pencegahan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Lilik Kurniawan
mengatakan buku ini ditunggu masyarakat sebagai acuan bersama dalam
menerapkan perubahan perilaku di masa pandemi.
Lilik menjelaskan
mulai dari bulan Maret sampai Oktober 2020 ini banyak perubahan yang
berbeda-beda sehingga membingungkan masyarakat. Organisasi-organisasi
masyarakat dan sejumlah lembaga membuat buku acuan tersendiri yang
pemahamannya agak berbeda. Akibatnya ketika sosialisasi masyarakat
menjadi bingung.
"Maka buku ini yang kita tunggu-tunggu sebagai acuan kita semua dari Sabang sampai Merauke, termasuk kami di BNPB," ujar Lilik.
Ketua
Bidang Perubahan Perilaku Satgas Penanganan Covid-19 Sonny Hari B.
Harmadi, selaku tim penyusun buku 'Pedoman Perubahan Perilaku Penanganan
Covid-19', menceritakan perbedaan persepsi yang muncul saat membahas
strategi penanganan bersama tim pakar. Ia membayangkan perbedaan yang
sama pun bakal dialami masyarakat. Guna menghindari itu, Sonny
melanjutkan buku pedoman perubahan perilaku ini hadir untuk menyamakan
persepsi.
"Makanya persepsi kita harus kita samakan, terutama
bagi para pengambil kebijakan. Kami berkesimpulan perlu menyusun buku
pedoman Perilaku yang baku dan berlaku untuk semua," ujar Sonny.
Sonny
menjelaskan secara singkat isi buku saku ini berisi seputar perubahan
perilaku. Apa dampaknya dan syaratnya. Buku ini melibatkan para pakar
dari berbagai bidang disiplin ilmu seperti pakar kesehatan, sosiolog,
antropolog, hingga ahli bahasa.
Lebih lanjut Sonny menjelaskan
keterlibatan ahli bahasa dalam buku ini agar pesan yang disampaikan
mudah diterima masyarakat. "Bagaimanapun juga bahasa menjadi penting
sebagai media komunikasi karena orang akan paham dengan menggunakan
bahasa yang tepat," jelas Sonny.
