Iklan

Pandemi Covid-19, Angka Kemiskinan di Banten Diprediksi Naik 2,5 Persen

Kamis, 02 Juli 2020, Juli 02, 2020 WIB Last Updated 2026-04-20T02:30:58Z


SERANG, (KB).- Badan Pusat Statistik (BPS) Banten memprediksi pandemi Covid-19 di Banten akan berdampak pada peningkatan angka kemiskinan dan pengangguran di Banten. Angka kemiskinan diprediksi naik 2,5 persen dari periode September 2019 sebanyak 4,94 persen. Kemudian angka pengangguran bisa naik dua digit dari 8,11 persen bisa menembus angka 10 persen.
Kepala BPS Banten Adhi Wiriana mengatakan, terdapat beberapa faktor awal yang bisa mendorong peningkatan angka kemiskinan dan pengangguran akibat pandemi Covid-19. Berdasarkan data, masih terjadi pelemahan daya beli masyarakat.
“Artinya mungkin ada dampak juga terkait dengan rencana pemotongan tukin pemprov, termasuk yang PHK, yang dirumahkan. Karena informasi kita dari beberapa hotel mereka yang dirumahkan justru gajinya turun, artinya tidak dibayar. Begitu dia masuk kantor baru dibayar, dan itu menandakan bahwa memang ada pelemahan daya beli masyarakat,” katanya saat ditemui di Kantor BPS Banten, KP3B, Kecamatan Curug, Kota Serang, Rabu (1/7/2020).
Jika daya beli masyarakat melemah otomatis akan berdampak pada dunia usaha, sehingga pengangguran bisa meningkat. Begitupun angka kemiskinan naik akibat penurunan daya beli.
“Kemudian data ekspor impor tadi yang dirilis. Ekspor kita turun 25 persen daripada tahun lalu, impor juga turun justru lebih jauh 45 persen, itu menandakan bahwa perekonomian kita emang terdampak, ekonomi Banten yah,” katanya.
Dia sendiri belum bisa memastikan bagaimana perkembangan ekonomi, tingkat kemiskinan dan pengangguran di Banten. Sebab, perkembangan ekonomi triwulan II baru akan dirilis pada Agustus 2020, begitupun angka kemiskinan dan pengangguran yang baru akan dirilis pada bulan yang sama.
“Maret itu kan baru diolah saat ini dan Agustus baru kita akan rilis. Sehingga kalau bicara angka ya kita bisa memprediksi walaupun kita harus hati-hati,” katanya.
Pihaknya sangat hati-hati dalam merilis angka kemiskinan, karena angka kemiskinan bersifat politis. Artinya, kata dia, akan menimbulkan dampak pada beberapa sektor.
“Kayak (angka kemiskinan) September 4,94 persen (2019) persen ada kemungkinan bisa naik 2,5 persen, walaupun enggak cuma Banten termasuk nasional. Dan itu bisa terjadi gejolak termasuk di bursa saham, termasuk nilai tukar rupiah dan sebagainya,” ujarnya.
Sama dengan kemiskinan, angka pengangguran juga perlu disebarkan secara hati-hati. Dia baru bisa menyampaikan prediksinya yang kemungkinan akan naik 2 digit hingga menembus 10 persen.
“Kemarin kan banyak perusahaan tutup kemudian PHK termasuk juga beberapa dampak sektor lain,” tuturnya.
Ia berharap Covid-19 segera mereda dan ekonomi Banten bisa kembali pulih. “Covid cepat berlalu sehingga ekonomi kita lebih cepat pulih. Di twilluan II pasti lebih rendah dibanding triwulan I. Jadi kalau dari angka ekspor impor kemudian pengangguran kemiskinan kemungkinan akan bertambah,” ucapnya.
Menurutnya, mempercepat pemulihan pada triwulan III menjadi solusi. Seperti yang dikatakan Presiden RI Joko Widodo yang menyegerakan penyerapan anggaran besar. “Mudahan-mudahan dampaknya ke depan akan lebih terasa, ekonomi kita sudah bergeliat,” katanya.
Namun, lain hal untuk sektor pariwisata yang menurutnya belum bisa diharapkan. Sebab, merujuk pada tingkat hunian hotel per data yang dirilis Juni 2020 baru di angka 20 persen.
“Jadi kelihatannya pariwisata masih akan berada di bawah. Walapun kalau dari perdagangan menuju normal baru, walapun normal baru itu bukan belanja ke pasar trandisional tapi ke arah belanja online. Dan itu yang kelihatannya belanja online cepat tapi nilai peranannya kepada perekonomian belum signifikan seperti belanja ke supermarket dan pasar tradisional. Karena kaya Alfamart dan lainnya itu banyak mengeluhkan terjadi penurunan,” tuturnya.
Kemiskinan palsu
Saat ini tim BPS sedang melakukan pendataan kemiskinan untuk dirilis pada Agustus 2020. Adapun yang perlu diwaspadai dalam pendataan ini adalah kemiskinan palsu, atau orang yang belum tentu miskin tapi mengaku sudah miskin. Orang ini memang terdampak Covid-19 dan hampir miskin. Namun belum masuk di bawah garis kemiskinan.
“Mereka belum miskin ataupun yang menjelang hampir miskin khawatir jatuh miskin. Sehingga mereka datang ke berbagai tempat untuk minta bantuan,” ucapnya.
Untuk mengantisipasinya, pihaknya akan melakukan indept study. Pendalaman informasi tidak hanya kepada orang bersangkutan melainkan juga dilakukan terhadap tetangganya.
“Walaupun garis kemiskinan kan naik, karena sekarang kan harga telur harga ayam itukan semua naik termasuk bawang merah dan sebagainya. Karena garis kemiskinan naik yang tadinya misalnya pas-pasan akan jatuh ke garis kemiskinan,” tuturnya.
Komentar

Tampilkan

  • Pandemi Covid-19, Angka Kemiskinan di Banten Diprediksi Naik 2,5 Persen
  • 0

Terkini

Topik Populer