Greenpeace bersama berbagai komunitas membersihkan sampah plastik di Pantai Impian Remaja, Teluknaga, Kabupaten Tangerang.
|
TANGERANG-Greenpeace bersama berbagai komunitas yang tergabung dalam gerakan
global #breakfreefromplastic mengaudit merek sampah plastik di Pantai
Impian Remaja, Teluknaga, Kabupaten Tangerang.
Kegiatan audit merek yang tertera dalam sampah plastik yang
dikumpulkan tersebut digelar bertepatan dengan momentum World Cleanup
Day yang diperingati setiap 21 September.
Juru Kampanye Urban Greenpeace Indonesia Muharram Atha Rasyadi
mengatakan, melalui kampanye ini, pihaknya menuntut pelaku-pelaku
industri bertanggung jawab atas sampah produk yang dihasilkannya.
“Karena tertera jelas dalam Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2008 tentang
Pengelolaan Sampah pada pasal 15 bahwa produsen wajib mengelola kemasan
produknya yang tidak bisa terurai oleh proses alam,” ujarnya, Sabtu
(21/9/2019).
Atha mengungkapkan, sejauh ini, produsen khususnya perusahaan yang
memproduksi barang kebutuhan sehari-hari (fast moving consumer goods)
menekankan daur ulang sebagai solusi. Menurutnya, mereka mencoba
meningkatkan persentase bahan baku kemasannya yang dapat didaur ulang.
“Padahal tingkat daur ulang di Tanah Air juga tingkat global masih
sangat rendah. Hanya 9 persen saja sampah plastik yang dapat didaur
ulang, 12 persen dibakar dan 79 persen berakhir begitu saja di tempat
pembuangan akhir dan lingkungan sekitar,” ungkapnya.
Atha menjelaskan, sampah-sampah plastik tersebut pun akhirnya
berlabuh di laut lewat beberapa jalur dan akhirnya mengancam ekosistem
laut, di mana 94 persen sampah plastik akhirnya mengendap di dasar laut.
Sedangkan sampah plastik yang dibakar menghasilkan polutan-polutan
berbahaya bagi makhluk hidup.
Kata Atha, solusi yang seharusnya adalah pelaku industri menerapkan
ekonomi sirkuler, di mana mereka harus mengurangi dan menghentikan
penggunaan kemasan plastik sekali pakai, kemudian mengaplikasikan
penggunaan kembali (reuse) dan isi ulang (refill).
“Kini sudah mulai bermunculan toko-toko yang menggunakan kedua konsep
tersebut. Kebanyakan mereka menjual barang kebutuhan pokok seperti
bahan baku masakan. Kehadiran mereka sebagai salah satu solusi mengurai
krisis sampah plastik,” jelasnya.
Atha juga menekankan, produsen harus segera melakukan aksi nyata demi
menyelamatkan lingkungan. Pasalnya, volume produksi plastik terus
meningkat setiap tahunnya. Secara global, lanjut dia, produksi plastik
lebih dari 400 juta ton per tahun, di mana produsen terbesar adalah
industri kemasan plastik dengan porsi mencapai 36 persen dari total
produksi plastik.
“Oleh sebab itu, kegiatan audit merek yang melibatkan berbagai
komunitas dan organisasi diharapkan bisa membangun kesadaran publik
sekaligus manjur dalam mendorong produsen untuk berubah,” pungkasnya.
