Tiada kenikmatan, apapun wujudnya yang dirasakan menusia, melainkan
datang dari Allah Subhanahu wa Ta'ala. Atas dasar itu, Allah Subhanahu
wa Ta'ala mewajibkan manusia untuk senantiasa bersyukur kepada-Nya.
Dengan cara senantiasa mengingat bahwasanya kenikmatan tersebut datang
dari Allah Subhanahu wa Ta'ala, diteruskan mengucapkan hamdalah, dan
selanjutnya menafkahkan sebagai kekayaannya di jalan-jalan yang diridhai
Allah Subhanahu wa Ta'ala. Seseorang yang telah mendapatkan taufik
untuk bersyukur, ia akan mendapatkan keberkahan dalam hidupnya, sehingga
Allah akan senantiasa melipatgandakan kenikmatan baginya.
Bersyukur atas segala nikmat dari Allah
Allah
Subhanahu wa Ta'ala berfirman. "Dan ingatlah tatkala Rabbmu
mengumandangkan: "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan
menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku) maka
sesungguhnya adzab-Ku sangat pedih" (Ibrahim : 7)
Pada ayat lain, Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman. "Dan barangsiapa yang bersyukur, maka sesungguhnya ia bersyukur demi (kebaikan) dirinya sendiri" (An-Naml : 40)
Imam Al-Qurthubi rahimahullah berkata :"Manfaat bersyukur tidak akan
dirasakan, kecuali oleh pelakunya sendiri. Dengan itu, ia berhak
mendapatkan kesempurnaan dari nikmat yang telah ia dapatkan, dan nikmat
tersebut akan kekal dan bertambah. Sebagaimana syukur, juga berfungsi
untuk mengikat kenikmatan yang telah didapat serta menggapai kenikmatan
yang belum dicapai"
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman,
"Sesungguhnya bagi kaum Saba' ada tanda (kekuasaan Rabb) di tempat
kediaman mereka, yaitu dua buah kebun di sebelah kanan dan di sebelah
kiri. (Kepada mereka dikatakan) : "Makanlah olehmu dari rizki yang
(dianugrahkan) Rabbmu dan bersyukurlah kamu kepada-Nya. (Negerimu)
adalah negeri yang baik dan (Rabbmu) adalah Rabb Yang Maha Pengampun.
Tetapi mereka berpaling, maka Kami datangkan kepada mereka banjir yang
besar dan Kami ganti kedua kebun mereka dengan dua kebun yang ditumbuhi
(pohon-pohon) yang berbuah pahit, pohon atsel (cemara) dan pohon bidara"
(Saba : 15-16)
Tatkala bangsa Saba' masih dalam keadaan makmur
dan tenteram, Allah subhanahu wa Ta'ala hanya memerintahkan kepada
mereka agar bersyukur. Ini menunjukkan, dengan bersyukur, mereka dapat
menjaga kenikmatan dari bencana, dan mendatangkan kenikmatan lain yang
belum pernah mereka dapatkan.
Membayar Zakat (Sedekah)
Zakat,
baik zakat wajib maupun sunnah (sedekah), merupakan salah satu amalan
yang menjadi faktor yang dapat menyebabkan turunnya keberkahan. Allah
Subhanahu wa Ta'ala berfirman "Allah memusnahkan riba dan menyuburkan
sedekah" (Al-Baqarah : 276)
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa
sallam bersabda. "Tiada pagi hari, melainkan ada dua malaikat yang
turun, kemudian salah satunya berkata (berdo'a) : "Ya Allah, berilah
pengganti bagi orang yang berinfak", sedangkan yang lain berdo'a :"Ya
Allah, timpakanlah kepada orang yang kikir (tidak berinfak) kehancuran"
(Muttafaqun alaih)
Bekerja Mencari Rizki Dengan Hati Qona'ah, Tidak Dipenuhi Ambisi dan Tidak Serakah
Sifat
qona'ah dan lapang dada dengan pembagian Allah Subhanahu wa Ta'ala,
merupakan kekayaan yang tidak ada bandingannya. Dengan jiwa yang
dipenuhi dengan qona'ah, dan keridhaan dengan segala rizki yang Allah
turunkan untuknya, maka keberkahan akan datang kepadanya. Rasulullah
Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda.
"Sesungguhnya Allah Yang
Maha Luas Karunia-nya lagi Maha Tinggi, akan menguji setiap hamba-Nya
dengan rizki yang telah Ia berikan kepadanya. Barangsiapa yang ridha
dengan pembagian Allah Subhanahu wa Ta'ala, maka Allah akan memberkahi
dan melapangkan rizki tersebut untuknya. Dan barangsiapa yang tidak
ridha (tidak puas), niscaya rizkinya tidak akan diberkahi" (HR Ahmad dan
dishahihkan oleh Al-Albani)
Al-Munawi rahimahullah menyebutkan :
"Penyakit ini (yaitu tidak puas dengan apa yang telah Allah Subhanahu wa
Ta'ala karuniakan kepadanya, pent) banyak dijumpai pada pemuja dunia.
Hingga engkau temui salah seorang dari mereka meremehkan rizki yang
telah dikaruniakan untuknya ; merasa hartanya sedikit, buruk, serta
terpana dengan rizki orang lain dan menganggapnya lebih bagus dan
banyak. Oleh karena itu, ia akan senantiasa membanting tulang untuk
menambah hartanya, sampai umurnya habis, kekuatannya sirna; dan ia pun
menjadi tua renta (pikun) akibat dari ambisi yang digapainya dan rasa
letih. Dengan itu, ia telah menyiksa tubuhnya, menghitamkan lembaran
amalannya dengan berbagai dosa yang ia lakukan demi mendapatkan harta
kekayaan. Padahal, ia tidak akan memperoleh selain apa yang telah Allah
Subhanahu wa Ta'ala tentukan untuknya. Pada akhir hayatnya, ia
meninggal dunia dalam keadaan pailit. Dia tidak mensyukuri yang telah ia
peroleh, dan ia juga tidak berhasil menggapai apa yang ia inginkan"
Oleh
karena itu, Islam mengajarkan kepada umatnya agar senantiasa menjaga
kehormatan agama dan diri dalam setiap usaha yang ditempuhnya guna
mencari rizki. Sehingga, seorang muslim tidak akan menempuh, melainkan
jalan-jalan yang telah dihalalkan dan dengan telah menjaga kehormatan
dirinya.
Bertaubat Dari Segala Perbuatan Dosa
Sebagaimana
perbuatan dosa menjadi salah satu penyebab terhalangnya rizki dari
pelakunya, maka sebaliknya, taubat dan istighfar merupakan salah satu
faktor yang dapat mendatangkan rizki dan keberkahannya. Allah Subhanahu
wa Ta'ala menceritakan tentang Nabi Hud Alaihissallam bersama kaumnya.
"Dan
(Hud berkata) : Hai kaumku, beristighfarlah kepada Rabbmu lalu
bertaubatlah kepada-Nya, niscaya Dia menurunkan atasmu hujan yang sangat
deras, dan Dia akan menambahkan kekuatan kepada kekuatanmu dan
janganlah kamu berpaling dengan berbuta dosa" (Hud : 52)
Akibat
kekufuran dan perbuatan dosa kaum 'Ad --berdasarkan keterangan para
ulama tafsir- mereka ditimpa kekeringan dan kemandulan, sehingga tidak
seorang wanita pun yang bisa melahirkan anak. Keadaan ini berlangsung
selama beberapa tahun lamanya. Oleh karena itu, Nabi Hud Alaihissallam
memerintahkan mereka untuk bertaubat dan beristighfar. Sebab, dengan
taubat dan istighfar itu, Allah Subhanahu wa Ta'ala akan menurunkan
hujan, dan mengaruniai mereka anak keturunan.
Menyambung Tali Silaturahmi
Di antara amal
shalih yang akan mendatangkan keberkahan dalam hidup, yaitu menyambung
tali silaturrahim. Ini merupakan upaya menjalin hubungan baik dengan
setiap orang yang akan terkait hubungan nasab dengan kita. Rasulullah
Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda.
"Barangsiapa yang senang
untuk dilapangkan (atau diberkahi) rizkinya, atau ditunda (dipanjangkan)
umurnya, maka hendaknya ia bersilaturrahim" (Muttafaqun 'alaih)
Yang dimaksud dengan ditunda ajalnya, ialah umurnya diberkahi, diberi
taufiq untuk beramal shalih, mengisi waktunya dengan berbagai amalan
yang berguna bagi kehidupannya di akhirat, dan ia terjaga dari
menyia-nyiakan waktunya dalam hal yang tidak berguna. Atau menjadikan
nama harumnya senantiasa dikenang orang. Atau benar-benar umurnya
ditambah oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala.
Mencari Rizki Dari Jalan Yang Halal.
Merupakan
syarat mutlak bagi terwujudnya keberkahan harta, ialah memperolehnya
dengan jalan yang halal. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam
bersabda.
"Janganlah
kamu merasa bahwa rizkimu datangnya terlambat. Karena sesunguhnya,
tidaklah seorang hamba akan meninggal, hingga telah datang kepadanya
rizki terakhir (yang telah ditentukan) untuknya. Maka, tempuhlah jalan
yang baik dalam mencari rizki, yaitu dengan mengambil yang halal dan
meninggalkan yang haram" (HR Abdur-Razaq, Ibnu Hibbanm dan Al-Hakim)
Salah
satu yang mempengaruhi keberkahan ini ialah praktek riba. Perbuatan
riba termasuk faktor yang dapat menghapus keberkahan. "Allah memusnahkan
riba dan menyuburkan sedekah" (Al-Baqarah : 276)
Ibnu Katsir
rahimahullah berkata :"Allah Subhanahu wa Ta'ala mengabarkan bahwa Dia
akan memusnahkan riba. Maksudnya, bisa saja memusnahkannya secara
keseluruhan dari tangan pemiliknya, atau menghalangi pemiliknya dari
keberkahan hartanya tersebut. Dengan demikian, pemilik riba tidak
mendapatkan manfaat dari harta ribanya. Bahkan dengan harta tersebut,
Allah Subhanahu wa Ta'ala akan membinasakannya dalam kehidupan dunia,
dan kelak di hari akhirat Allah Subhanahu wa Ta'ala akan menyiksanya
akibat harta tersebut"
Bila mengamati kehidupan orang-orang yang
menjalankan praktek riba, niscaya kita dapatkan banyak bukti bagi
kebenaran ayat dan hadits di atas. Betapa banyak pemakan riba yang
hartanya berlimpah, hingga tak terhitung jumlahnya, akan tetapi tidak
satu pun dari mereka yang merasakan keberkahan, ketentraman dan
kebahagiaan dari harta haram tersebut.
Begitu pula dengan
meminta-minta (mengemis) dalam mencari rizki, termasuk perbuatan yang
diharamkan dan tidak mengandung keberkahan. Dalam salah satu hadits,
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam menjelaskan sebagian dampak
hilangnya keberkahan dari orang yang meminta-minta.
"Tidaklah
seseorang terus-menerus meminta-minta kepada orang lain, hingga kelak
akan datang pada hari Kiamat, dalam keadaan tidak ada secuil daging pun
melekat di wajahnya" (Muttafaqun alaih)
Bekerja Saat Waktu Pagi.
Di
antara jalan untuk meraih keberkahan dari Allah, ialah menanamkan
semangat untuk hidup sehat dan produktif, serta menyingkirkan sifat
malas sejauh-jaunya. Caranya, senantiasa memanfaatkan karunia Allah
Subhanahu wa Ta'ala dengan hal-hal yang berguna dan mendatangkan
kemaslahatan bagi hidup kita.
Termasuk waktu yang paling baik
untuk memulai bekerja dan mencari rizki, ialah waktu pagi. Rasulullah
Shallallahu 'alaihi wa sallam pernah memanjatkan do'a keberkahan.
"Ya
Allah, berkahilah untuk ummatku waktu pagi mereka" (HR Abu Dawud,
At-Tirmidzi, An-Nasa-i, Ibnu Majah dan dishahihkan oleh Syaikh
Al-Albani)
Hikmah dikhususkannya waktu pagi dengan doa keberkahan,
lantaran waktu pagi merupakan waktu dimulainya berbagai aktifitas
manusia. Saat itu pula, seseorang merasakan semangat usai beristirahat
di malam hari. Oleh karenanya, beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam
mendo'akan keberkahan pada waktu pagi ini agar seluruh umatnya
memperoleh bagian dari doa tersebut.
Sebagai
penerapan langsung dari doa ini, bila mengutus pasukan perang,
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam melakukannya di pagi hari,
sehingga pasukan diberkahi dan mendapatkan pertolongan serta kemenangan.
Contoh
lain dari keberkahan waktu pagi, ialah sebagaimana yang dilakukan oleh
sahabat Shakhr Al-Ghamidi Radhiyallahu 'anhu. Yaitu perawi hadits ini
dari Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam. Shakhr bekerja sebagai
pedagang. Usai mendengarkan hadits ini, ia pun menerapkannya. Tidaklah
ia mengirimkan barang dagangannya kecuali di pagi hari. Dan benarlah,
keberkahan Allah Subhanahu wa Ta'ala dapat ia peroleh. Diriwayatkan,
perniagaannya berhasil dan hartanya melimpah ruah. Dan berdasarkan
hadits ini pula, sebagian ulama menyatakan, tidur pada pagi hari
hukumnya makruh.
Masih banyak lagi amalan-amalan yang akan
mendatangkan keberkahan dalam kehidupan seorang muslim. Apa yang telah
saya paparkan di atas hanyalah sebagai contoh
Semoga Allah
Subhanahu wa Ta'ala senantiasa melimpahkan taufiq dan keberkahan-Nya
kepada kita semua. Dan semoga pemaparan singkat ini dapat berguna bagi
saya pribadi dan setiap orang yang mendengar atau membacanya. Tak lupa,
bila pemaparan diatas ada kesalahan, maka hal itu datang dari saya dan
dari setan, sehingga saya beristighfar kepada Allah. Dan bila ada
kebenaran, maka itu semua atas taufik dan inayah-Nya.
Wallahu a'lam bish-shawab
