Bupati Serang Ratu Tatu Chasanah melakukan sentuhan kecil namun
penuh makna. Salah satunya, merenovasi ratusan rumah warga yang sudah
tidak layak huni. Dia hanya ingin sekali melihat masyarakat hidup
bahagia.
Pagi itu di Pendopo Bupati Serang, Banten. Serasa mendapat siraman
rohani. Ayat-ayat Alquran menghiasi dinding. Menjadi pengingat agar kita
senantiasa berbuat kebajikan. Juga soal ayat-ayat tentang kewajiban
seorang pemimpin menjalankan amanah.
’’Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru
kepada kebajikan, menyuruh kepada yang makruf dan mencegah dari yang
mungkar; dan mereka lah orang-orang yang beruntung.’’
Begitu bunyi salah satu ayat suci yang dikutip dari Alquran Surat
Ali Imran ayat 104. Ayat itu terpampang dalam sebuah pigura besar dengan
bingkai keemasan.
Selain itu, terpampang lukisan dan potret wajah pemimpin Serang
sejak 1816. Mulai Pangeran Mudzafar Adi Santika hingga Taufik Nuriman,
Bupati Serang yang menjabat pada periode 2005-2015.
Sembari melihat-melihat seluruh isi ruangan, tak lama, seorang
perempuan berkaca mata, mengenakan kemeja putih, dengan hijab merah
masuk ruangan.
Dialah Ratu Tatu Chasanah atau lebih akrab dipanggil Tatu atau
Bunda. ’’Permisi ini jadwalnya padat. Punten ini. Tadi saya pertemuan
dengan Forkopimda (Forum Komunikasi Pimpinan Daerah). Kemudian diajak
sarapan dengan Pak Kapolda, jadi saya menemani beliau dulu,’’ ujar
perempuan kelahiran Serang, 23 Juli 1967 itu.
Sembari membuka percakapan, Tatu menawarkan untuk meminum teh
hangat. ’’Silakan. Santai saja,’’ ucap perempuan yang memimpin Kabupaten
Serang sejak 17 Februari 2016 itu.
Di tengah jadwalnya yang padat, Ratu Tatu meluangkan waktunya
berbagi pengalaman dengan pada Rabu, 14 Agustus 2019 lalu. Meski
sebentar, dia banyak bercerita mengenai perkembangan kabupaten yang
berada di ujung barat laut, Pulau Jawa. Mulai perkembangan
infrastruktur, pembangunan sumber daya manusia melalui pendidikan,
hingga ketersediaan kesehatan.
Adik kandung mantan Gubernur Banten, Ratu Atut Chosiyah, ini
memulai pembicaraan mengenai kondisi Kabupaten Serang. Setelah Banten
melalukuan pemekaran dari Jawa Barat pada 2000 lalu, kantor pemerintahan
memang masih berada di Kota Serang.
Pendopo tempat pertemuan sejatinya berada di dalam administrasi ibu
kota Provinsi Banten. Sebab, untuk membuat kantor bupati yang baru,
butuh biaya besar. Apalagi kondisi keuangan atau anggaran pendapatan
belanja daerah (APBD) mengalami efisiensi.
Sejak menjabat Bupati, Ratu Tatu lebih memprioritaskan kas
pemerintah daerah pada tiga hal, yakni pendidikan, kesehatan, dan
infrastruktur. Pada 2019 saja, APBD Kabupaten Serang hanya Rp3,043
triliun.
Wajar jika Ratu Tatu sangat berhati-hati dalam menyusun program
belanja pemerintah. Dia menyebut, belanja kendaraan dinas bahkan harus
dihentikan. Alhasil, banyak mobil kepala dinas mogok karena sudah tua.
Dia pun meminta maaf kepada seluruh aparatur sipil negara (ASN) yang
bekerja membantunya di pemerintahan. Dirinya merasa tidak enak.’Keuangannya ketat banget. Saya tidak enak dengan kepala dinas.
Saya tahu kok, Pak Kadis dan Bu Kadis mau mengerjakan untuk masyarakat.
Tapi memang prioritas kita di pendidikan, kesehatan, dan
infrastruktur,’’ beber perempuan yang memiliki gelar Magister Akuntansi
dari Universitas Pancasila, Jakarta.
Kondisi geografis Kabupaten Serang sangat luas. Yaitu 1.734,28
kilometer per segi. Luas itu dibagi ke dalam 29 kecamatan dan 362 desa
dengan penduduk berjumlah 1.493.591 jiwa. Semua wilayah itu memiliki hak
sama dalam mendapatkan hak warga negara, seperti infrastruktur,
pemerataan pendidikan, dan akses kesehatan yang mudah dijangkau.
’’Dulu jalan di mana-mana rusak. Sekarang sedikit demi sedikit kami
perbaiki. Pendidikan juga, budaya membaca masyarakat masih rendah dan
manual. Ditambah, ASN kita, lebih dari 6.000 orang adalah guru. Jadi
memang perhatian utama kami pada tiga hal tersebut,” ucapnya.
Ratu Tatu sadar tidak bisa menyelesaikan pekerjaan rumah sendiri.
Dibutuhkan kerja keras dari ASN serta partisipasi masyarakat untuk
membangun Kabupaten Serang sesuai visi dan misi yang dituangkan melalui
Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD).
Untuk itu, ibu tiga anak ini melakukan sentuhan kecil namun penuh
makna yang dapat dilakukannya langsung kepada masyarakat. Contoh nyata,
adalah memberikan beasiswa kepada 88 mahasiswa pada 2019 ini. Serta
memperbaiki atau merenovasi rumah warga yang sudah tidak layak huni,
agar lebih nyaman ditempati sebanyak 450 unit menggunakan APDB Kabupaten
Serang 2019.
Semua itu dilakukan untuk meningkatkan kesejahteraan dan
menumbuhkan harapan kepada warganya. Secercah harapan itu, menambah
semangat Ketua Umum Palang Merah Indonesia (PMI) Provinsi Banten ini.
”Apalagi masyarakat ada yang tidak punya rumah layak. Dalam hati
saya sedih sekali melihat hal tersebut. Ingin sekali melihat masyarakat
hidup bahagia,” harap dia.
Ratu Tatu sadar. Belum banyak yang bisa diberikan kepada
masyarakat. Namun, dia tetap terbuka dengan segala keluhan warga. Pesan
itu kerap dikirim melalui WhatsApp (WA). Tidak terhitung lagi, berapa
banyak grup WA, yang ada dirinya di dalam sana. Sampai-sampai, pesan
ketiga anaknya saja tidak terbaca, karena terlalu banyak percakapan pada
grup WA.
’’Pengin sekali rasanya keluar. Tapi nggak bisa. Karena itu kan
aspirasi masyarakat. Tapi saya juga malas menggunakan dua nomor, karena
satu handphone saja, sudah repot,” canda dia berusaha untuk membuat
perbincangan tetap santai.
Untuk itu, dia juga mengajak masyarakat untuk bersama-sama
membangun Kabupaten Serang. Sehingga tercipta chemistry antara
pemerintah dan masyarakat. Melalui hubungan yang baik, dia meyakini akan
sangat mudah, membangun daerah menjadi maju.
’’Contoh saja Jogja, karena masyarakat dan pemimpinnya, memiliki
ikatan sama. Kami berharap masyarakat juga paham kondisi tersebut. Juga
terbangun hubungan baik, sehingga dapat membangun Kabupaten Serang
menjadi daerah maju,” tuturnya.
Rasa optimistis itu diharapkan tumbuh bersama harapan yang terus
disemainya. Terlebih, tujuannya menjadi bupati adalah mengabdi kepada
masyarakat. Susah dan senang pun dijalaninya, tanpa merasa menjadi
beban. Bahkan, hal itu menjadi api semangat yang terus dikobarkannya
demi membangun Kabupaten Serang serta meningkatkan kesejahteraan
masyarakat.
’’Sudah menanggung basah. Karena susahnya masyarakat, adalah
susahnya saya juga. Karena sudah menjadi satu bagian dari masyarakat,’’
tuturnya.
Ketua DPD I Partai Golkar Provinsi Banten ini pun berharap, ada
banyak pihak yang dapat berkontribusi dalam pembangunan di Kabupaten
Serang. Sehingga, visi dan misi, dapat dicapai bersama-sama.
