Iklan

Makna Sumpah Pemuda di Era Globalisasi

Jumat, 27 Oktober 2017, Oktober 27, 2017 WIB Last Updated 2026-04-20T02:28:58Z

Sumpah Pemuda, sumpah yang asal mulanya diucapkan oleh pemuda-pemudi Indonesia pada 28 Oktober 1928. Tak hanya mengucapkan, mereka juga mampu membuktikan dan menjalankan sumpah yang telah diucapkan. Isinya pun tidak main-main, pemuda-pemudi pada saat itu telah mencurahkan segenap jiwa dan raga demi tercipta cita-cita berdirinya negara Indonesia.

Bunyi Sumpah Pemuda yang tercantum dalam prasasti di dinding Museum Sumpah Pemuda menggunakan ejaan van Ophysen adalah sebagai berikut.

“Pertama:

Kami poetra dan poetri Indonesia, mengakoe bertoempah darah jang satoe, tanah Indonesia.

Kedoea:

Kami poetra dan poetri Indonesia, mengakoe berbangsa jang satoe, bangsa Indonesia.

Ketiga:

Kami poetra dan poetri Indonesia, mendjoendjoeng bahasa persatoean, bahasa Indonesia.”

Lalu sebenarnya apa makna dari Sumpah Pemuda di era globalisasi ini? Apa kita sebagai pemuda-pemudi Indonesia hanya berdiam diri setelah merasakan nikmatnya kemerdekaan? Tentu jawabannya tidak.Di era globalisasi ini, seharusnya kita mengerti apa yang harus dilakukan dan dikorbankan demi terciptanya tujuan bangsa. Kadang kita hanya mampu mengkritisi semua tingkah laku dan peraturan yang telah ada. Namun apakah terfikir di benak kita apa yang telah kita lakukan demi Indonesia? Apa kita sudah mampu membuat Indonesia bangga memiliki pemuda-pemudi seperti kita?

Miris rasanya ketika melihat sebagian aset bangsa malah terlibat dalam lingkaran hitam dunia yang kelam. Seperti halnya narkoba, seks bebas, pembunuhan dan tindakan kriminal lainnya. Bahkan mereka tak mempedulikan bagaimana nasib bangsa ini kedepannya. Jiwa nasionalisme makin lama semakin menurun. Sikap individualisme makin lama malah semakin meningkat.


Kalimat “mengakoe berbangsa satoe” mungkin sudah tidak lagi termaksud saat ini. Jika kita mengaku berbangsa satu, tak mungkin ada perdebatan yang berujung pada perkelahian dan tawuran. Tak mungkin ada demo yang menimbulkan kekacauan hingga menimbulkan kerusakan fasilitas negara. Tak mungkin ada korupsi yang semakin membabi buta demi kepentingan pribadi.

Apalagi dengan adanya globalisasi membuat semua budaya asing masuk “sesukanya” ke Indonesia tanpa pengawasan yang benar. Bukti kongkritnya saja, pemuda-pemudi Indonesia kini lebih mengenal budaya bangsa Korea, Jepang daripada Indonesia. Mulai dari boyband, girlband, cara berpakaian, dan aksesoris beredar luas di bumi pertiwi. Bagaimana nasibnya bangsa ini jika pemuda-pemudinya saja enggan untuk mengenal dan melestarikan budaya bangsa?

Maka dari itu, marilah kita sebagai pemuda-pemudi bangsa Indonesia berjuang sebagai pelurus bangsa yang kini sudah semakin berbelok arah dari tujuannya. Bukan sebagai penerus semua hal negatif yang ada sebelumnya. Bung Soekarno pernah berkata “Berikan aku 1000 orang tua maka akan aku cabut akar gunung Semeru, dan berikan aku 10 pemuda maka akan aku taklukkan dunia.”. Terbukti bahwa pemuda adalah aset yang berharga bagi kemajuan bangsa. 



Komentar

Tampilkan

  • Makna Sumpah Pemuda di Era Globalisasi
  • 0

Terkini

Topik Populer