Iklan

Selat Hormuz Memanas, Kapal AS dan Thailand Ditembak Iran Saat Melintas

Jumat, 13 Maret 2026, Maret 13, 2026 WIB Last Updated 2026-04-20T02:30:10Z

 

IRAN, KONTAK BANTEN – Ketegangan di kawasan Selat Hormuz semakin meningkat setelah Iran dilaporkan menembaki sejumlah kapal dagang yang mencoba melintas di jalur pelayaran strategis tersebut.

Beberapa laporan media internasional menyebutkan sedikitnya belasan kapal komersial mengalami kerusakan akibat serangan sejak konflik antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel pecah pada 28 Februari 2026.

Salah satu insiden terjadi pada Senin (2/3/2026) ketika kapal tanker berbendera Amerika Serikat, Stena Imperative, menjadi sasaran serangan udara.

Dilansir CBS News, kapal tersebut dihantam proyektil yang diduga berasal dari pesawat nirawak (drone) atau rudal milik pasukan Iran. Serangan itu dilaporkan menewaskan seorang pekerja pelabuhan.

Serangan terhadap kapal komersial kemudian kembali terjadi pada Rabu (11/3/2026). Kali ini kapal kargo berbendera Thailand MV Mayuree Naree diserang saat melintas di Selat Hormuz.

Kapal jenis bulk carrier itu dilaporkan terkena dua proyektil tak lama setelah memuat kargo di Uni Emirat Arab. Ledakan terjadi di ruang mesin kapal hingga menyebabkan bagian lambung depan mengeluarkan asap hitam.

Operator kapal, Precious Shipping, menyatakan saat kejadian terdapat 23 awak kapal di atas kapal tersebut.

Sebanyak 20 awak kapal berhasil diselamatkan oleh otoritas Oman, sementara tiga awak lainnya dilaporkan hilang dan diduga terjebak di ruang mesin kapal.

“Tiga anggota kru dilaporkan hilang dan diyakini terjebak di ruang mesin,” kata perusahaan tersebut seperti dikutip Reuters, Kamis (12/3/2026).

Iran Wajibkan Kapal Minta Izin

Pasukan Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC) menyatakan bahwa setiap kapal yang ingin melintas di Selat Hormuz kini harus mendapatkan izin dari Iran.

Apabila tidak memenuhi syarat tersebut, kapal berpotensi menjadi sasaran serangan seperti yang terjadi pada kapal Mayuree Naree maupun kapal Express Rome.

“Kapal Express Rome milik Israel yang mengibarkan bendera Liberia dan kapal kontainer Mayuree Naree terkena proyektil Iran setelah mengabaikan peringatan dari angkatan laut IRGC,” demikian pernyataan Garda Revolusi yang dimuat kantor berita Iran ISNA, seperti dikutip Agence France-Presse.

Komandan Angkatan Laut IRGC, Alireza Tangsiri, bahkan mengejek janji pemerintah Amerika Serikat yang menyatakan akan melindungi kapal-kapal yang melintas di Selat Hormuz.

Ia menyebut janji tersebut sebagai “janji kosong”.

“Apakah kapal-kapal itu dijamin dapat melintas dengan aman melalui Selat Hormuz? Pertanyaan ini seharusnya diajukan kepada awak kapal Express Rome dan Mayuree Naree,” ujar Tangsiri seperti dikutip Press TV.

Ia juga menegaskan bahwa Iran tidak akan mengizinkan satu liter minyak pun melewati Selat Hormuz jika berkaitan dengan Amerika Serikat, Israel, maupun sekutunya.

“Setiap kapal yang berniat melintas harus memperoleh izin dari Iran,” tegasnya.

Ancaman Ranjau di Selat Hormuz

Sebelumnya, IRGC juga menyampaikan persyaratan bagi negara-negara yang ingin kapal tanker minyaknya melintasi Selat Hormuz dengan aman.

Melalui siaran televisi pemerintah Iran Islamic Republic of Iran Broadcasting (IRIB), Garda Revolusi menyatakan negara yang ingin mendapat jaminan keamanan harus mengusir duta besar Amerika Serikat dan Israel dari wilayah mereka.

Sementara itu, Presiden Amerika Serikat Donald Trump turut menanggapi laporan mengenai aktivitas Iran yang diduga menebar ranjau laut di Selat Hormuz.

Menurut laporan CBS, Iran diperkirakan memiliki persediaan antara 2.000 hingga 6.000 ranjau laut.

“Jika Iran benar-benar menebar ranjau di Selat Hormuz, kami berharap ranjau tersebut segera disingkirkan,” ujar Trump melalui platform Truth Social.

Trump juga memperingatkan Iran agar segera membersihkan ranjau tersebut.

“Jika ranjau dipasang dan tidak segera disingkirkan, Iran akan menghadapi konsekuensi militer yang belum pernah mereka lihat sebelumnya,” tegasnya.

Thailand Ajukan Protes

Di sisi lain, Kementerian Luar Negeri Thailand menyatakan seluruh kapal Thailand kini telah meninggalkan wilayah Selat Hormuz.

Wakil juru bicara kementerian tersebut, Panidol Patchimsawat, mengatakan pemerintah Thailand telah menyampaikan protes resmi atas insiden penyerangan kapal berbendera negaranya.

Ia juga menyebut Angkatan Laut Oman berhasil menyelamatkan 20 awak kapal dan membawa mereka ke daratan di wilayah Khasab.

“Saat ini tim pencarian masih dikerahkan untuk menemukan tiga awak kapal yang masih hilang,” kata Panidol.

Pihak Kedutaan Besar Thailand di Muscat juga telah berkomunikasi langsung dengan kapten kapal untuk memastikan kondisi para awak yang selamat.

Meski tidak ada korban luka serius, para awak kapal yang selamat disebut membutuhkan dukungan psikologis setelah mengalami insiden tersebut.

“Mohon diyakini bahwa kami sedang melakukan upaya maksimal untuk menemukan tiga orang yang masih hilang,” ujarnya.

Komentar

Tampilkan

  • Selat Hormuz Memanas, Kapal AS dan Thailand Ditembak Iran Saat Melintas
  • 0

Terkini

Topik Populer