TAHERANG KONTAK BANTEN 27 Maret 2026 — Pemerintah Iran mengklaim telah memobilisasi lebih dari satu juta tentara dan pejuang sukarelawan untuk menghadapi kemungkinan invasi darat oleh Amerika Serikat (AS), di tengah meningkatnya ketegangan antara kedua negara.
Mengutip laporan media lokal Tasnim News, lonjakan partisipasi publik disebut terjadi sebagai respons atas ancaman militer dari Washington. Sumber yang mengetahui perkembangan tersebut menyatakan bahwa lebih dari satu juta warga telah menyatakan kesiapan untuk terlibat dalam pertempuran.
Dalam beberapa hari terakhir, gelombang besar pemuda Iran dilaporkan mendaftarkan diri untuk bergabung dengan Garda Revolusi. Peningkatan ini mencerminkan eskalasi kesiapsiagaan nasional di tengah situasi yang semakin memanas.
Sementara itu, Komandan Pasukan Darat Iran, Brigadir Jenderal Ali Jahanshahi, memperingatkan bahwa skenario perang darat justru akan menjadi bumerang bagi pihak lawan.
“Perang darat akan lebih berbahaya dan merugikan bagi musuh. Semua pergerakan musuh di perbatasan dipantau, dan kami siap menghadapi skenario apa pun,” ujarnya, seperti dikutip Kantor Berita ISNA.
Ketegangan ini dipicu oleh sikap Presiden AS Donald Trump yang berulang kali mendesak Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis bagi distribusi energi global. Washington bahkan mengancam akan menyerang infrastruktur energi Iran serta mempertimbangkan operasi darat apabila akses tersebut tidak segera dibuka sepenuhnya.
Meski Trump menyebut adanya komunikasi antara kedua negara, pemerintah Iran membantah klaim tersebut. Teheran menilai pernyataan Washington sebagai upaya untuk mengulur waktu sambil mempersiapkan langkah militer lanjutan, khususnya di wilayah selatan Iran.
Di sisi lain, laporan juga menyebutkan bahwa AS terus memperkuat kehadiran militernya di kawasan Timur Tengah. Washington dikabarkan berencana mengerahkan tambahan sekitar 1.000 personel, di tengah total sekitar 50.000 pasukan yang telah ditempatkan sebelumnya.
Situasi ini menandai peningkatan signifikan ketegangan geopolitik di kawasan, dengan potensi dampak luas terhadap stabilitas regional dan jalur perdagangan global.
