Iklan

Saatnya Mengurangi Impor Pangan

Senin, 19 Oktober 2020, Oktober 19, 2020 WIB Last Updated 2026-04-20T02:29:49Z

 

Ancaman Kelaparan I Badan Pangan Diperlukan untuk Atur Kebijakan Kementerian Teknis

JAKARTA – Pemerintah diminta me­nindaklanjuti peringatan dari Food Agri­culture Organization (FAO) akan ancam­an kelaparan global yang diperkirakan menimpa sekitar 123 juta penduduk pada tahun ini. Langkah antisipasi itu dengan memberi insentif ke sektor per­tanian guna memperkuat produktivitas.

Pakar Pertanian dari Universitas Pembangunan Nasional (UPN) Jawa Ti­mur, Surabaya, Ramdan Hidayat, yang diminta pendapatnya mengatakan pe­merintah harus menjadikan ancam­an krisis pangan akibat pandemi Co­vid-19 sebagai pemacu mewujudkan ketahanan pangan dengan mengurangi kebergantungan dari impor.

“Ancaman krisis pangan seharus­nya menyadarkan semua pihak bahwa mengandalkan impor untuk memenuhi ketahanan pangan tidak cukup, bahkan lebih riskan kalau sampai jadi kebergan­tungan,” kata Ramdan.

Pada dasarnya, setiap negara harus memiliki kemandirian dan kedaulatan pangan untuk mencukupi kebutuhan penduduknya, apalagi pada saat krisis di depan mata, karena pangan adalah kebutuhan manusia paling mendasar.

“Impor selama ini hanya melemah­kan pertanian kita. Negara-negara lain yang terdampak, tentu akan menda­hulukan kebutuhan domestiknya ma­sing-masing. Apalagi penurunan pro­duksi tidak hanya pada petaninya saja, tetapi juga mata rantai industri pertani­an, seperti pupuk, benih, pestisida, dan lainnya,” kata Ramdan.

Pemerintah, tambahnya, harus segera membuat pemetaan provinsi-provinsi yang menjadi lumbung pangan yang bisa menyuplai kebutuhan ke daerah lain. Se­lain itu, penggunaan dana desa juga ha­rus efektif, menyasar pada kearifan lokal keunggulan masing-masing desa.

“Sekarang saatnya memperhatikan pertanian yang mandiri dengan du­kungan data yang valid. Selama ini data yang digunakan tiap kementerian kerap berbeda, maka diperlukan badan pangan untuk mengaturnya, termasuk mengoordinasikan kebijakan kementerian di ba­wahnya agar bisa saling mendukung, bu­kan malah bertentangan,” pungkasnya.

Secara terpisah, Peneliti Sekolah Bis­nis dari Institut Pertanian Bogor (IPB), Raden Dikky Indrawan, mengatakan pandemi yang membatasi pergerakan manusia telah mendisrupsi sistem pro­duksi rantai nilai global dan perda­gangan dunia. Oleh karena itu, langkah yang harus dilakukan Indonesia adalah memperkuat sektor produksi pertanian khususnya pangan.

“Insentif produktif untuk mendorong aktivitas pertanian khususnya pangan harus diarahkan kepada modal kerja dan kegiatan produktif penunjang lain­nya. Berikutnya simpul-simpul rantai nilai pangan di Indonesia dipetakan da­lam kerangka simpul pangan atau hub dalam sistem logistik dan lumbung pa­ngan,” kata Dikky.

Demikian juga dengan pemba­ngunan sistem logistik yang baik untuk mengurangi food waste (kerusakan ma­kanan) sangat penting menopang sis­tem pangan nasional.

Bisa Terdampak

Koordinator Nasional Koalisi Rak­yat untuk Kedaulatan Pangan (KRKP), Said Abdullah, mengatakan Indonesia bisa terdampak dari perkiraan lembaga pangan itu jika tidak mengantisipasi se­cara dini.

Kelompok masyarakat yang berpoten­si terdampak itu pada mereka yang ren­tan/keluarga miskin yang jumlahnya cu­kup banyak. Saat ini, kelompok tersebut masih dalam kategori aman karena men­dapat subsidi pangan dari pemerintah.

“Namun dalam jangka panjang jika tidak ada upaya serius, mereka masuk dalam kategori rawan pangan dan pada akhirnya berujung kelaparan yang seri­us,” kata Said.

Sebab itu, respons kebijakan dan pro­gram penyediaan pangan perlu dilaku­kan dengan melanjutkan bantuan yang dibarengi dengan peningkatan ekonomi kelompok rentan tersebut. “Dengan de­mikian, mereka memiliki pendapatan yang cukup dan daya akses terhadap pangannya menjadi baik,” jelasnya.

Sementara itu, Penasihat Senior In­donesian Human Rights Committee for Social Justice (IHCS), Gunawan, menga­takan sebagai langkah antisipasi peme­rintah harus memetakan daerah yang masih rawan pangan.

“Potensi rawan pangan terus meluas karena ancaman bencana alam, seperti banjir dan longsor, serta musim yang ti­dak menentu,” katanya.

Komentar

Tampilkan

  • Saatnya Mengurangi Impor Pangan
  • 0

Terkini

Topik Populer