BANYAK yang kemudian tertipu oleh angka-angka survey
berupa tingkat popularitas dan elektabilitas. Pun begitu banyak calon
yang kemudian memendam kekecewaan yang teramat sangat pasca kalah karena
merasa dibohongi oleh angka-angka survey.
Siapapun memahami, bahwa angka-angka yang dihasilkan lewat proses
survey memang tak bisa dipercaya sepenuhnya. Namanya saja survey artinya
proses penelitiannya menggunakan cara ilmiah yang tingkat kesalahannya
tidaklah zero.
Persoalannya, ada banyak kandidat yang kemudian terlena dan sangat
memercayai angka-angka manis yang disodorkan oleh tim survey-nya.
Angka-angka fantastis terus menjadi pegangannya dan menjadi bunga-bunga
tidur hingga kemudian hancur lebur ketika penghitungan suara berakhir.
Penentu sesungguhnya siapa pemenang dalam pilkada, adalah faktor
kekuatan jaringan dan faktor infrastruktur tim. Dua hal yang
mempengaruhi kedua faktor ini adalah militansi jaringan dan kelengkapan
infrastruktur yang mencapai strata terendah pemilih.
Dengan kekuatan jaringan yang dimiliki maka seorang kandidat bisa
dengan mudah menjangkau pemilih. Jaringan yang lengkap membuat sang
kandidat bisa memengaruhi arah berpikir dan bertindak pemilih. Jaringan
yang loyal dan rapi membuat seorang kandidat bisa mengirimkan apa saja
ke pemilih.
Hal inilah yang kemudian mengkonfirmasi mengapa banyak kandidat yang
sebelumnya sangat bagus popularitas dan elektabilitas pada survey tetapi
kemudian terkalahkan di akhir penghitungan suara.
Sebuah berita baik tentang citra seorang kandidat akan mudah memenuhi
ruang-ruang kosong pemilih karena tersampaikan dengan cepat lewat
kekuatan jaringan dan infrastruktur. Demikian pula ketika strategi
kontra kampanye hitam akan dilakukan. Black campaign and negative
campaign akan dengan mudah terpatahkan dengan sistem jaringan yang rapi
dan militan.
Inilah bedanya ketika kemudian penetrasi pencitraan dilakukan dengan
mengandalkan serangan udara misalnya lewat media sosial. Serangan udara
dipastikan tak akan bisa melakukan covering total terhadap ruang-ruang
kosong pemilih.
Dalam Pilkada Langsung maka kekuatan jaringan akan menjadi
penentunya. Siapa yang menguasai infrastruktur, mampu mengendalikan para
pengambil keputusan di tingkat terbawah pemilih seperti tokoh
masyarakat, agama, pemuda dan wanita serta ketua-ketua RT/RW, maka
dialah yang punya potensi menang. Apalagi kemudian jika ada calon yang
mampu mengendalikan secara penuh para kepala daerah, para raja-raja
kecil di daerahnya.
Penulis: Nurmal Idrus
Direktur Nurani Strategic
Direktur Nurani Strategic