Iklan

Presiden Jokowi Apresiasi Cara Berdemokrasi Partai Golkar

Rabu, 04 Desember 2019, Desember 04, 2019 WIB Last Updated 2026-04-20T02:30:34Z

PEMBUKAAN MUNAS GOLKAR I Presiden Joko Widodo bersama Ketua Umum Partai Golkar, Airlangga Hartarto (kanan) disaksikan Ketua Penyelenggara Munas Golkar, Melchias Markus Mekeng saat menghadiri pembukaan Munas X Partai Golkar, di Jakarta, Selasa (3/12). Munas akan berlangsung selama empat hari dengan salah satu agenda pemilihan Ketua Umum Golkar 2019-2024.
JAKARTA – Presiden Joko Widodo memberikan apresi­asi tinggi terhadap cara berde­mokrasi yang ditempuh kader Partai Golkar dalam Musya­warah Nasional (Munas) X Ta­hun 2019. Terutama, setelah salah satu kadernya, yakni Bam­bang Soesatyo, menarik diri dari pemilihan ketua umum.
“Saya senang sekali bahwa Munas Golkar ini menunjuk­kan persaudaraan yang baik, kerukunan yang baik. Jadi, saya sekali lagi ingin mengajak kita semua memberikan tepuk ta­ngan untuk Bapak Bambang Soesatyo,” kata Presiden Jokowi saat memberikan sambutan Pembukaan Musyawarah Na­sional X Partai Golkar, di Jakar­ta, Selasa (3/12).
Jokowi pun menuturkan suhu politik nasional akan me­manas jika internal Partai Gol­kar dalam prosesnya terpecah. “Sebetulnya enggak apa-apa (maju caketum). Tapi, kalau ada persaudaraan dan keruku­nan, kenapa kita tempuh yang panas-panas,” tutur Jokowi.
Ia lalu menjelaskan terkait apresiasi yang diberikan ter­hadap cara berdemokrasi Par­tai Golkar pada munas kali ini. Menurut dia, jika sampai terjadi perpecahan, pasti akan berdampak pada stabilitas na­sional.
“Saya ini melihat dari jauh kalau Golkar pecah jadi par­tai, baru lagi. Itu kekhawatir­an saya. Golkar adalah partai besar, menjadi aset besar bagi bangsa Indonesia. Sekali lagi, kalau Golkar goyang, perpoli­tikan nasional goyang. Golkar dingin perpolitikan ikut di­ngin,” jelas Jokowi.
Jokowi lalu mencontohkan Hong Kong dan Cile yang dulu aman dan stabil, namun ber­ubah karena stabilitas politik meninggi. Menurut Jokowi, apabila stabilitas politik ter­ganggu akan mempengaruhi penilaian pihak lain, terutama kalangan investor.
Enggak akan ada orang berinventasi di Indonesia kalau stabilitas politik tidak baik dan tidak bisa membuka lapang­an pekerjaan seluas-luasnya. Sehingga, sekali lagi saya sa­ngat menghargai mengapre­siasi cara-cara berdemokrasi yang diperlihatkan dalam mu­nas,” ujar Kepala Negara.
Menjadi Pemersatu
Pada kesempatan itu, Jokowi menyampaikan tidak ada in­tervensi yang dilakukan oleh pihak Istana sebagaimana isu yang sempat beredar sebelum munas digelar.
“Jangan ada yang berpra­sangka tidak baik. Karena ke­marin ada yang menyampai­kan Istana intervensi. Tidak ada. Saya berikan jaminan, tidak ada. Kalau ada yang me­nyampaikan Pak Mensesneg saya berikan jaminan, tidak. Kalau ada DPD yang dikum­pulkan Mensesneg di sini, silakan maju dan saya beri sepeda,” kata Jokowi.
Sebelumnya, saat memberi­kan sambutan, Ketua Umum Partai Golkar, Airlangga Har­tarto, ingin Munas X Partai Golkar tahun 2019 harus lebih mempersatukan, bukan malah terjadi perpecahan.
“Golkar tidak boleh terpecah lagi. Munas harus menyatukan. Karena itu, saya mengapresiasi setinggi-tingginya, sore ini ber­temu (Bambang). Dan menarik diri dari bursa caketum Golkar. Beliau dengan tegas meng­utamakan kepentingan ber­sama daripada pribadi,” kata Airlangga.
Ia pun menyebut langkah yang diambil Bambang Soesa­tyo tersebut sebagai contoh konkret kedewasaan kader Par­tai Golkar. “Terima kasih Mas Bambang Soesatyo membuka munas ini dengan tenang dan adem,” ucap Airlangga yang langsung disambut riuh tepuk tangan kader Partai Golkar yang hadir dalam munas.
Dalam kesempatan itu, Air­langga mengatakan ke depan Partai Golkar akan membentuk akademi yang akan digunakan sebagai sarana pengaderan. “Golkar akademi ini akan men­jadi kaderisasi bagi kader par­tai golkar,” tutup Airlangga.
Komentar

Tampilkan

  • Presiden Jokowi Apresiasi Cara Berdemokrasi Partai Golkar
  • 0

Terkini

Topik Populer