JAKARTA – Indonesia harus lebih berhati-hati dalam pengelolaan utang
luar negeri (ULN), baik utang pemerintah maupun swasta, karena
munculnya potensi depresiasi rupiah yang lebih dalam akibat terjadinya
arus modal keluar (capital outflow) yang lebih besar.
Bank Dunia memperingatkan bahwa perlambatan ekonomi global, ditambah
perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dan Tiongkok yang berlanjut,
potensi resesi ekonomi AS, serta pelemahan ekonomi Eropa dan Tiongkok,
berpeluang memicu capital outflow tersebut. Ini berpotensi mendorong kenaikan suku bunga acuan Indonesia dan pelemahan rupiah yang lebih tajam.
Direktur Utama Core Indonesia, Muhammad Faisal, mengemukakan
Indonesia harus berhati-hati mengelola ULN pemerintah dan swasta yang
terus membengkak hingga mencapai 391,8 miliar dollar AS per Juni 2019.
“Pemerintah mesti melakukan pendalaman utang dalam negeri, sehingga
relatif lebih aman terhadap gejolak eksternal,” jelas dia, ketika
dihubungi, Jumat (6/9).
Terkait dengan risiko ULN Indonesia, Faisal mengutip peringatan dari
konsultan keuangan global, McKinsey & Company, yang menempatkan
Indonesia dalam risiko tertinggi ketiga di Asia setelah Tiongkok dan
India karena besarnya utang swasta dan pemerintah dalam valuta asing.
Meskipun secara agregat rasio utang sekitar 30 persen dari Produk
Domestik Bruto (PDB), Indonesia dinilai tidak lebih aman dari Jepang
yang memiliki utang dua kali lipat dari PDB. Jepang bisa dikatakan
selalu terhindar dari gejolak karena sebagian besar utang berasal dari
dalam negeri.
“Menambah utang di situasi ekonomi global yang sulit itu oke saja,
asalkan portofolio utangnya dari dalam negeri sehingga ancaman
depresiasi rupiah tidak mengganggu keuangan negara dan ekonomi,” ujar
Faisal.
Sebelumnya, McKinsey mengingatkan negara Asia untuk mewaspadai
risiko terulangnya krisis keuangan 1997, menyusul tingginya tingkat
utang asing, terutama di tengah-tengah berkecamuknya perang dagang yang
berpeluang memicu resesi dunia.
Dalam laporan bertajuk Signs of Stress in The Asian Financial System, McKinsey mengungkapkan bahwa 25 persen ULN jangka panjang swasta di Indonesia memiliki rasio penutupan bunga atau interest coverage ratio (ICR) kurang dari 1,5 kali.
Rasio tersebut dinilai rawan karena perseroan menggunakan mayoritas
labanya untuk membayar utang. Tingkat utang Indonesia yang
berdenominasi dollar AS mencapai 50 persen dari porsi utang yang ada,
atau jauh di atas rata-rata kawasan sebesar 25 persen.
Semakin Berbahaya
Mengenai potensi capital outflow, dalam laporan berjudul Global Economic Risks and Implications for Indonesia,
Bank Dunia menilai arus modal keluar itu semakin berbahaya karena
hingga kini Indonesia masih mengalami defisit neraca transaksi berjalan
atau current account deficit (CAD). Diproyeksikan, CAD
Indonesia mencapai 33 miliar dollar AS pada 2019, naik dari tahun
sebelumnya yang sebesar 31 miliar dollar AS.
Di sisi lain, pertumbuhan investasi asing langsung atau Foreign Direct Investment (FDI)
juga lesu, rata-rata 22 miliar dollar AS per tahun. Itu pun harus
dikurangi dengan yang keluar dari Indonesia sekitar lima miliar dollar
AS setahun.
Dengan kondisi ini, Bank Dunia memperkirakan dibutuhkan setidaknya 16 miliar dollar AS per tahun inflow pembiayaan eksternal untuk menutup gap defisit tersebut. Pembiayaan eksternal yang dibutuhkan bisa lebih banyak jika capital outflow yang diprediksi benar-benar terjadi.
Sementara itu, pakar ekonomi yang juga Rektor Universitas Airlangga,
Surabaya, Mohammad Nasih, mengatakan perang dagang AS-Tiongkok bisa
berlangsung lama, sehingga mengganggu pertumbuhan ekonomi RI.
“Pertumbuhan kemungkinan akan meleset dari target, hanya tercapai
sekitar 4,9 persen. Selain itu, perang dagang akan mendorong impor kita
naik,” ujar dia.
Kenaikan impor ditambah depresiasi rupiah akan menaikkan harga
sehingga mendorong laju inflasi. Akibatnya, daya beli masyarakat melemah
sehingga meningkatkan kemiskinan dan memperlebar kesenjangan ekonomi.
“Untuk itu, langkah mendesak yang harus dilakukan pemerintah adalah
memperbaiki daya saing,” papar Nasih
