Pada pembukaan ceramahnya Ustadz mengawalinya dengan pentingnya rasa
syukur pada diri kita sebagai muslim yang memiliki semangat untuk
menjalankan rukun Islam yang ke lima. Semangat menjalankan rukun Islam
ini adalah anugerah Allah yang perlu disyukuri. Banyak saudara kita yg
tak mampu tapi memiliki keinginan kuat untuk menjalankan ibadah haji,
sementara yang memiliki harta berlebih malah terkadang belum ada niat
utk menjalankannya. Makanya, semangat ini perlu dipupuk agar selalu
terjaga sehingga kita tidak lalai menjalankan syariat Islam, apalagi
bagi yang mampu itu merupakan sebuah kewajiban yang akan menjadi berdosa
jika tak segera menunaikannya.
Nah, untuk yang akan menjalankan
ibadah haji hendaknya diperhatikan dan disiapkan betul-betul agar
ibadahnya tidak sia-sia dan tentunya cita-cita menjadi haji mabrur terus
diupayakan semaksimal mungkin.
Lalu apa kiat-kiat menjadi Haji Mabrur?
1. Niat Ikhlas.
Niat
haji haruslah semata-mata memenuhi panggilan Allah Swt. Sebagaimana
terlantun dalam kalimat talbiyah yang selalu dikumandangkan oleh mereka
yang berhaji: Labbaik, Allahumma Labbaik Labbaik. laa syariika laka labbaik innal hamda wan ni’mata laka wal mulk laa syariika laka . Aku
memenuhi panggilanMu, ya Allah aku memenuhi panggilanMu. Aku memenuhi
panggilanMu, tiada sekutu bagiMu, aku memenuhi panggilanMu. Sungguh
segala puji dan nikmat adalah milikMu, begitu juga seluruh kerajaan,
tiada sekutu bagiMu.
Jadi semata-mata karena panggilan Allah lah
seseorang melaksanakan ibadah haji, bukan keinginan untuk mendapatkan
gelar haji, bukan keinginan untuk berwisata. Niat-niat yang tidak
sejalan dengan tujuan berhaji seyogyanya ditanggalkan sebelum berangkat
berhaji. Niat-niat seperti ini yang akan merusak ibadah haji.
2. Ikuti pembimbing dengan baik
Terutama
untuk ibadah haji pertama, tentu masih belum terbayang seperti apa
kondisi perjalanan haji. Adanya pembimbing haji akan memudahkan
pelaksanaan dan menghindari kekeliruan pelaksanaan.
Menurut
ustadz Bakrun yang sudah sering menjadi pembimbing haji, bahwa
sebenarnya ibadah haji itu mudah, jangan sampai terbelenggu dengan
bacaan yang tidak harus harus dibaca/dihafal namun memaksakan diri
membacanya secara lengkap sehingga menyebabkan tertinggal dari rombongan
dan tidak bisa mengikuti apa yang petunjuk dan tuntunan dari pembimbing
dengan baik. Dalam ibadah haji tidak ada doa khusus yg dibaca, kecuali
Robbana Aatinaa fidunya hasanah wa fil akhiroti hasanah wa qina
adzabannar.
Jadi
tidak perlu takut utk menjalankan ibadah haji hanya karena tidak hafal
doa-doa yang dipanjatkan. Berdoalah sebisanya bahkan dengan bahasa apa
pun. Ini untuk menjaga kekhusukan saat menjalankan berbagai macam
tahapan ibadah haji mulai dari ihram, tawaf, sa’i, dan wukuf di Padang
Arafah.
3. Merenungi hikmah ibadah Haji
Esensi atau inti dari ibadah haji adalah memenuhi panggilan Allah sebagaimana dalam kalimat talbiyah.
Ihram,
merupakan simbol dari keterlepasan hal-hal yang bersifat keduniawian
kesamaan manusia di sisi Allah Swt, atau bahasa kerennya egaliter.
Seluruh atribut duniawi dilepas baik atribut gelar maupun atribut
pakaian hingga celana dalam pun. Seluruh jabatan, pangkat, status sosial
ditanggalkan. Semua sama, siapapun dia sebelumnya. Hanya kain putih
yang membungkus badan, itulah sebenarnya diri manusia yang menjadi hamba
di hadapan Allah Swt. Sepanjang perjalanan haji kalimat-kalimat yang
terucap pun adalah kalimat-kalimat pujian Allah. Segala pembicaraan
tentang keduniawian ditinggalkan.
Berangkat haji ibarat
perjalanan ke akherat. Maka sebelum berangkat dalam tradisi Indonesia
diadakan walimatussafar dengan tujuan mengucapkan permintaan maaf,
berwasiat , berniat membayar hutang piutang. Menitipkan harta dan anak
kepada tetangga, dan yang terpenting adalah menitipkan semuanya pemberi
harta dan karunia yaitu kepada Allah Swt semata.
Selain
memberikan tips-tips meraih haji mabrur, Ustadz juga berpesan agar dalam
menjalankan haji hendaklah saling peduli terhadap sesama jamaah. Jika
ada nenek-nenek atau kakek-kakek yang lemah dan minta pertolongan jangan
segan-segan menolongnya. Jangan sesekali mengeluh jika direpotkan,
karena sebenarnya itu adalah ladang pahala lantaran berbuat kebaikan
dengan sesama. Karena sesungguhnya hidup itu bukan untuk diri sendiri
semata, tapi hidup harus bermanfaat untuk orang lain dan memberikan
manfaat dalam kebersamaan.
Para undangan ibu-ibu
Orang yang berharga atau
mempunyai nilai manfaat di hadapan masyarakat maka ia bernilai di
hadapan Allah Swt. Maka Islam menyuruh sholat berjmaah agar terjalin
kebersamaan dan mengurangi sifat ego yang hanya ingin masuk sorga
sendiri. Orang Islam yang baik harus dirasakan keberadaannya di hadapan
orang lain.
Orang yang hidupnya untuk diri sendiri maka hidupnya
kecil, matinya pun kecil. Kalo mati orang tak peduli. Oleh karena itu
jika hendak berhaji katakan dalam hati bahwa “Saya berangkat haji bukan
dengan diri sendiri, tapi ada banyak orang lain yang menyertai baik dari
menjelang keberangkatan dari rumah masing-masing hingga kepulangan ke
tanah air, berapa banyak handai tolan dan para tetangga dan juga seluruh
jamaah haji sedikit banyak turut berperan dalam proses haji seseorang.”
Jadi sering-seringlah menghadiri undangan tasyakuran haji, agar selalu termotivasi untuk menunaikan ibadah haji.
Demikianlah
salah satu catatan sebagai oleh-oleh menghadiri walimatussafar.
Sebenarnya ulasan pak Ustadz lebih banyak lagi, tapi hanya ini yang bisa
saya catat. Meskipun demikian mudah-mudahan bisa menularkan semangat
bagi pembaca muslim untuk memiliki cita-cita menunaikan perjalanan
ibadah haji ke tanah suci. Amin.
