SERANG – Untuk mengendalikan inflasi di daerah, ekonom dari
Indonesian Development of Economics and Finance (Indef) Dr Aviliani
berpendapat, koordinasi antar-pemerintah daerah merupakan hal yang
penting dan perlu dilakukan secara rutin. Dengan cara itu, permasalahan
dari setiap kabupaten atau kota diketahui sehingga bisa dikoordinasikan
dengan provinsi.
“Bagaimana pun kalau kerja sama
antarkabupaten kota akan menjadi lebih baik terkait dengan bagaimana
menstabilkan harga baik dari sisi produksi maupun dari sisi konsumen,”
kata Aviliani pada high level meeting di Pendopo Gubernur Banten, KP3B,
Curug, Kota Serang, Kamis (26/9), yang digelar Tim Pengendali Inflasi Daerah
(TPID).
Acara itu dihadiri Sekda Provinsi Banten Al
Muktabar, Kepala Bank Indonesia Provinsi Banten Erwin Soeriadimadja, Kepala
Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Banten Babar Soeharso, Bupati
Lebak Iti Octavia Jayabaya, Wakil Bupati Pandeglang Tanto Warsono Arban, dan
perwakilan pemkot/pemkab se-Provinsi Banten. Rapat kordinasi ini dipimpin
langsung oleh Sekda Banten Al Muktabar dan mendengarkan berbagai permasalahan
yang ada di daerah di Provinsi Banten.
Pada kesempatan itu, Aviliani setuju dengan
adanya BUMD pangan di provinsi yang nanti akan menjaga harga sehingga ke depan
inflasi tetap terjaga. Ia juga sepakat jika pemda di Banten kerja sama dengan
provinsi lain atau daerah lain dalam pengendalian inflasi. Provinsi Jawa Timur,
misalnya, memiliki dan punya keberhasilan yang jauh lebih baik mengendalikan
harga-harga dengan kerja sama.
“Ini bukan hanya membantu nasional
menstabilkan harga dan bisa mengurangi impor, karena ternyata antar-daerah itu
ada yang kelebihan dan kekurangan. Selama ini karena tidak ada informasi jadi
akhirnya harga jatuh banyak yang dibuang hasil produksinya,” katanya.
Sekda Banten Al Muktabar mengatakan,
pihaknya akan mengambil langkah-langkah teknis menyikapi inflasi. “Inflasi
terlalu rendah menjadi cerminan yang tidak baik, terlalu tinggi juga cerminan
yang tidak baik,” ujar Al.
Untuk itu, pihaknya menargetkan untuk
mencapai titik stabilitas. Pemprov Banten akan bergandengan tangan dengan
pemerintah kabupaten/kota untuk mencapai stabilitas. “Pemprov mengambil peran
untuk mengayomi. Itu memang tugas Gubernur sebagai wakil pemerintah pusat di
daerah,” tuturnya.
Kepala Bank Indonesia Provinsi Banten Erwin
Soeriadimadja mengatakan, high level meeting merupakan kegiatan yang
positif dan merespons dari pemerintah pusat dan pemda di kabupaten kota untuk
sama-sama konsen melakukan langkah-langkah koordinasi untuk pengendalian
inflasi. Dalam pertemuan ini juga ada beberapa masukan yang ditanggapi positif
antara lain perlunya menyusun payung hukum untuk kerja sama antar daerah dan
dikoordinasikan dengan pemerintah provinsi. “Selain itu, kabupaten kota
juga merespons positif dan juga sudah siap mendukung berbagai langkah-langkah
kebijakan yang ada,” katanya.
Beberapa hal yang dibahas antara lain perlu
adanya memorandum of understanding (MoU) maupun peraturan daerah yang
menjadi payung sinergi intra Provinsi Banten, pentingnya data neraca pangan
untuk menentukan langka pengendalian inflasi dan koordinasi, peningkatan
intensitas koordinasi sebagai tindak lanjut rapat koordinasi level atas,
pembentukan BUMD yang dapat membantu pemerintah daerah dalam distribusi
komoditas.
Selain itu, beberapa masukan pengendalian
inflasi di daerah dari peserta rapat. Antara lain pendirian gudang logistik
maupun pusat distribusi sebagai tempat mengumpulkan komoditas strategis,
Perluasan pasar tani yang saat ini hanya dilakukan di hari tertentu dan di
beberapa titik. Bupati Lebak juga telah menginisiasi kerja sama dengan PT KAI
untuk gerbong khusus untuk komoditas pertanian guna memperluas pemasaran dari
daerah produsen ke daerah konsumen antar-Provinsi Banten.
Menurut Erwin, berbagai hal yang dibahas
tersebut nanti ini akan dituangkan di dalam suatu kesepakatan bersama. Kemudian
langkah-langkahnya akan dimonitor dan akan mengadakan forum rutin secara
berkala untuk memastikan bahwa kesepakatan berjalan dengan baik.
“Saya membayangkan bahwa nanti di
Banten memiliki sistem informasi terhadap harga pangan produksi pangan dan
suplai pangan karena ini sangat vital untuk pengendalian inflasi
kedepannya,” katanya.
