![]() |
| Nasaruddin Umar Imam Besar Masjid Istiqlal Jakarta |
DALAM Islam, Tahun Baru Hijriah memiliki makna dan hakikat tersendiri
yang berbeda dengan penanggalan lainnya. Selain memiliki makna historis
dan sosiologis, mempunyai makna makna teologis.
Peristiwa hijriah merupakan momentum lahirnya sebuah peradaban baru
bagi dunia kemanusiaan. Peristiwa hijriah sesungguhnya layak untuk
diperingati bukan saja oleh umat Islam, melainkan juga bagi siapa pun
yang concern terhadap dunia kemanusiaan. Momentum hijriah dapat
dijadikan simbol monumental tumbuhnya sebuah era baru kemanusiaan yang
betul-betul konstruktif.
Hakikat Tahun Baru Hijriah ialah tahun perubahan. Bisa dibayangkan
seandainya bukan karena jasa besar Nabi Muhammad SAW yang mengawali
karier kemasyarakatannya di Madinah, mungkin belum bisa kita menyaksikan
masyarakat madani atau civil society seperti yang kita kenal saat ini.
Hal itu diakui ilmuwan Barat seperti Marshall GS Hodgson dalam karya
monumentalnya, The Venture of Islam, Concience and History in a World
Civilization.
Momentum hijriah mengubah peradaban mistik dan khurafat menjadi
masyarakat rasional dan profesional, dari tradisi menghafal ke tradisi
menulis dan membaca, dari tradisi androsentris yang memuja laki-laki dan
memojokkan perempuan ke era kesetaraan gender. Juga dari era perbudakan
ke era pembebasan budak dan dari era diktator para raja ke era
masyarakat yang menghargai musyawarah dan demokrasi.
Penanggalan Islam dihubungkan dengan momentum perjuangan Nabi,
bukannya kelahiran atau kematian Nabi, memiliki arti penting tersendiri.
Penanggalan Hijriah sendiri menggunakan ukuran bulan, bukannya matahari
seperti kalender miladiyah atau Masehi.
Penanggalan Masehi lebih tua daripada penanggalan Hijriah karena
penanggalan Masehi dihubungkan dengan kelahiran Nabi Isa atau Yesus
Kritus menurut keyakinan umat kristiani. Di antara keduanya terpaut
panjang, sekitar 581 tahun, seperti yang kita saksikan besok, umat Islam
memperingati Tahun Baru Hijriah 1440.
Sejarah dan konsep kalender hijriah berawal ketika dunia Islam
semakin meluas sampai keluar dari jazirah Arab, terutama pada zaman
pemerintahan Khalifah Umar yang meluas sampai ke Mesir, Persia, dan
berbagai wilayah di luar Arab lainnya.
Untuk mengatur pemerintahannya yang semakin luas, Umar mengangkat
beberapa sahabat untuk menjadi gubernur, di antaranya Muawiyyah menjadi
gubernur di Suriah, termasuk wilayahnya ialah Yordania. Amru bin Ash
diangkat menjadi Gubernur Mesir. Musa Al-As'ari diangkat menjadi
Gubernur Kuffah. Mu'adz bin Jabal diangkat menjadi Gubernur Yaman, dan
Abu Hurairah diangkat menjadi Gubernur Bahrain.
Setelah itu, Khalifah Umar bin Khatthab mengumpulkan para tokoh dan
para sahabat di Madinah untuk menyepakati sistem penanggalan
pemerintahan. Dalam musyawarah tersebut dibicarakan rencana membuat
tarikh atau kalender Islam.
Dalam musyawarah itu muncul berbagai usul tentang momentum yang akan
digunakan sebagai penanggalan Hijriah. Akhirnya yang disepakati para
sahabat ketika itu ialah hijrahnya Nabi Muhammad SAW dari Mekah ke
Madinah. Dari sinilah bermula penanggalan dan tarikh Islam dinamakan
tahun Hijriah.
Makna lain yang bisa dipetik dari peringatan Tahun Baru Hijriah ialah
penyegaran iman dan keyakinan. Dalam salah satu hadis Nabi ditegaskan,
"Perbaruilah keimanan kalian dengan membaca dua kalimat syahadat." Tentu
maksud hadis ini bukan menganggap kita sudah keluar dari Islam lantas
diminta ramai-ramai untuk bersyahadat ulang.
Maksud hadis di atas ialah kita diminta untuk senantiasa memperbarui
komitmen keislaman kita dalam setiap event yang penting, misalnya hari
raya keagamaan, hari raya nasional, dan hari penting personal kita,
misalnya hari ulang tahun.
Mengapa Rasulullah memerintahkan kita untuk senantiasa memperbarui
keimanan kita? Salah satu sebabnya ialah Allah Mahatahu kalau kita itu
bukan malaikat, melainkan kita warga umat Islam yang tidak luput dari
berbagai kekhilafan dan dosa. Dosa-dosa dan kejahatan, baik dilakukan di
dalam keluarga maupun di ruang publik, mulai dosa kecil sampai dosa
besar, sepantasnya kita sesali dan mohonkan ampun. Siapa tahu tahun baru
ini ialah tahun terakhir bagi kita. Na'udzu billah.
Sebagai seorang muslim, ada tiga hal yang harus dilakukan setiap kali
kita memasuki pergantian tahun. Pertama, kita wajib bersyukur terhadap
umur yang ditambahkan Allah SWT. Betapa banyak saudara bahkan mungkin
keluarga dekat yang tidak bisa menyaksikan pergantian tahun baru karena
keburu dipanggil Allah SWT. Tidaklah tepat merayakan pergantian tahun
baru dengan serbahura-hura dan gemerlapan. Sebaiknya kita memperingati
pergantian tahun ini dengan lebih banyak terharu.
Kedua, kita harus memohon ampun kepada Allah SWT terhadap segala dosa
dan maksiat yang telah dilakukan di sepanjang tahun ini. Ketiga, kita
wajib memohon bimbingan dan petunjuk-Nya agar tahun baru dan tahun-tahun
mendatang senantiasa di dalam lindungan Allah SWT. Tahun-tahun
mendatang diprediksi sebagai tahun yang penuh power struggle, penuh
kekerasan akibat semakin ketatnya persaingan hidup.
Harapan kita kepada segenap masyarakat, khususnya umat Islam
Indonesia, agar di malam tahun baru yang akan datang, kita peringati
dengan kematangan yang ditandai dengan kesadaran meninggalkan pola hidup
konsumerisme ke pola hidup penghematan.
Alangkah indahnya jika setiap keluarga menghimpun anggota keluarganya
untuk salat berjemaah seraya memohon berbagai harapan kepada Allah SWT.
