JAKARTA - Peneliti Tim Kajian Papua Lembaga Ilmu
Pengetahuan Indonesia (LIPI) Aisah Putri Budiarti mengatakan, ada empat
temuan akar masalah konflik di Papua. Penelitian dilakukan pada 2009
namun, terkonfirmasi dengan peristiwa yang baru terjadi kemarin.
Diskriminasi rasial terhadap masyarakat Papua salah satu temuan
kajian LIPI sepuluh tahun lalu. Masalah itu menjadi pemicu konflik di
Papua baru-baru ini. Yaitu kasus kekerasan rasial di Surabaya, Jawa Timur.
"Salah satunya diskriminasi itu, salah satu masalah saja dan itu
terbukti dan kita menemukan di kejadian di Jawa Timur ini," kata Aisah
dalam diskusi di kawasan Cikini, Jakarta Pusat, Sabtu (31/8).
Namun, sebetulnya bukan hanya masalah rasial saja yang memicu konflik
di Papua. Aisah menyebut, akar konflik berikutnya adalah pelanggaran
HAM di tanah Papua. Kasus tersebut menumpuk sejak zaman orde baru.
Namun, perilaku represif kerap terjadi sampai saat ini. Salah kasus yang
terjadi saat masa reformasi adalah kasus Wasior Wamena.
"Dan udah dinyatakan Jokowi, minta dituntaskan pada Jokowi terpilih di awal 2014," kata Aisah.
Masalah berikutnya adalah kegagalan pembangunan di Papua. Kata Aisah,
masalah pembangunan tersebut masih terjadi hingga kini. Berdasarkan
riset LIPI, ucapnya, kondisi kemiskinan
semakin tinggi dan indeks pembangunan manusia (IPM) semakin rendah di
wilayah kabupaten dan kota dengan mayoritas orang asli Papua. Padahal,
Otsus yang diperuntukkan bagi orang Papua sudah diberlakukan sejak lama.
"Ini Ironi sebenarnya, karena Otsus sudah berjalan hampir 30 tahun,
tapi kok ga ada perubahan padahal Otsus itu untuk orang asli Papua,"
jelas Aisah.
Masalah terakhir adalah status politik dan sejarah masuknya Papua ke
Indonesia. Pemerintah, kata Aisah, cenderung menghindari masalah
tersebut. Padahal seharusnya diperhatikan pemerintah. Aisah menyarankan,
pemerintah harus memperhatikan masalah ini.
"Ini ada perbedaan perspektif tentang status politik dan integrasi
Papua masuk ke Indonesia. Ini harus diperhatikan," kata Aisah.
