![]() |
Himakum Universitas Bina Bangsa melakukan agenda ngabuburit dengan cara membedah buku.
|
SERANG-Himakum Universitas Bina Bangsa melakukan agenda ngabuburit dengan
cara membedah sebuah buku yang saat ini menjadi perbincangan dikalangan
mahasiswa : Lelaki di Tengah Hujan di kampus Bina Bangsa, Selasa
(21/5/2019).
Buku yang merupakan kisah nyata terkait suka duka perjalanan seorang
aktivis mahasiswa menjelang meletusnya reformasi tersebut dibedah tepat
pada momentum 21 tahun reformasi sebagai bentuk refleksi terhadap
kondisi dan jati diri mahasiswa yang disebutkan di dalam forum telah
jauh dari jati diri mahasiswa yang sebenarnya.
Dalam perjalanannya, peserta bedah buku terlihat antusias dalam
mengikuti agenda tersebut. Para pembicara yang hadir pun menyampaikan
materi dengan lugas dan berdasarkan sisi objektif yang pernah mereka
jabarkan. Karena, dua dari empat pemateri yang hadir memang merupakan
pelaku sejarah Reformasi.
Mereka yang merupakan pelaku sejarah yaitu Wenri Wanhar yang juga
merupakan penulis buku tersebut dan Radjimo S Wijono, ketua Masyarakat
Sejarahwan Indonesia Banten.
Penyampaian materi mereka yang lugas dapat menghipnotis peserta
seolah-olah berada pada periode perjuangan melawan rezim orde baru.
Radjimo menceritakan bagaimana dulu pada zamannya, para aktivis dalam
melakukan pembiayaan gerakan mereka dengan cara menggadaikan ijazah
kuliah mereka.
“Dulu teman saya itu pernah menggadaikan ijazah dia untuk membiayai
pergerakan mahasiswa saat itu ke koperasi Mahasiswa. Dan ternyata
koperasinya kebakaran, jadi sekarang dia tidak punya ijazah,” ungkapnya
disambut gelak tawa para peserta.
Radjimo pun menuturkan bahwa salah satu pelaku yang berada dalam buku
Lelaki Di Tengah Hujan tersebut merupakan teman dekatnya dalam
pergerakan reformasi. Hal lucu pun diceritakan okeh Radjimo bahwa
kesalahan temannya dalam membawa bom dengan cara diseret menjadi titik
awal bagaimana buku ini bercerita.
“Jadi harusnya bom itu gak boleh diseret. Jadi karena salah, bom itu
meledak. Mungkin ini lucu yah kalau diceritakan sekarang, tapi situasi
sebenarnya itu menegangkan,” kata Radjimo.
Selanjutnya, Wenri Wanhar mulai bercerita juga. Ia mengatakan bahwa
buku ini ditulis semata-mata demi mengabadikan kisah yang telah terjadi,
meskipun sepenting atau setidak penting apapun kisah tersebut. Karena
hal itu tetaplah bagian dari sejarah.
“Ini adalah falsafah dari Yunani : Yang tertulis abadi, yang terucap
menguap. Sehingga, kisah sejarah ini ditulis untuk dikenang, dan untuk
saling memaaf-maafkan. Bukan untuk saling mendendam,” tukasnya.
Ia pun menceritakan bagaimana latar belakang kisah tersebut berada
dalam sebuah era dimana pemerintah bertindak secara keras dalam
memimpin. Sehingga, para mahasiswa bergerak dengan taktik dan caranya
sendiri.
“Pada saat itu ada Pers Mahasiswa yang benar-benar membangun narasi
perjuangan. Ada para aktivis mahasiswa yang kajian-kajiannya sangat
mendalam,” jelasnya.
Namun, ia pun berkata bahwa sedikit miris dengan kondisi saat ini.
Yang menurutnya kondisi saat ini tidak jauh berbeda dengan pada
masalalu. Tapi dalam sudut pelaku itu berbeda. Karena jika dulu
pelakunya adalah pemerintah yang sewenang-wenang, saat ini justru
masyarakatnya yang sewenang-wenang.
“Kita lihat saja bagaimana dalam melakukan perebutan kekuasaan, kok
bisa sampai berani merendahkan orang lain? Atau bagaimana untuk mencari
rezeki, mereka merusak alam. Lalu aku berfikir, apakah ini yang
disebutkan bangsa berbudaya?” terangnya.
Ia pun mempersilahkan mahasiswa untuk belajar kepada suku Baduy, yang
menurut orang banyak merupakan suku yang tidak berbudaya karena tidak
mau menerima perkembangan zaman. Ia mengaku bahwa suku Baduy merupakan
salah satu suku yang benar-benar berbudaya.
“Coba, orang-orang bilang mereka primitif. Tapi ternyata kita lah
yang primitif. Orang baduy untuk menyembelih satu ayam saja doanya
panjang sekali, tapi kita untuk menghilangkan satu nyawa, mudah sekali,”
katanya.
Oleh karena itu, Wenri berkata bahwa untuk apa mahasiswa berfikir
untuk membangun bangsa ini dengan cara belajar jauh-jauh ke negara lain,
namun yang terjadi adalah ketidakberadaban dalam bernegara.
“Banggalah dengan budaya sendiri. Bangun sikap kritis dengan
pendalaman kajian yang matang. Bukan hanya karena mengikuti cara-cara
orang lain. Bangun konsep yang berlandaskan Pancasila,” ungkapnya.
Ketua Himakum Bina Bangsa, Recky Pamungkas, mengatakan bahwa usai
diadakannya agenda ini, diharapkan mahasiswa kembali kepada pangkuan
masyarakat.
“Mahasiswa harus kembali kepada masyarakat, berjuang bersama
masyarakat. Harus sadar bahwa mereka adalah anak kandung masyarakat,”
tuturnya.
Senada dikatakan oleh Ketua Pelaksana, Dhea. Ia berharap para
mahasiswa saat ini kembali kepada jatidiri mereka dengan kembali
memikirkan kondisi masyarakat saat ini.
“Jangan sampai kita ini jadi mahasiswa yang hanya memikirkan diri sendiri, hanya memikirka tugas, tugas, dan tugas,” tandasnya.
