BANDUNG – Program pembangunan di Jawa Barat selama
satu tahun pertama kepemimpinan Gubernur Ridwan Kamil dan Wakil Gubernur
Uu Ruzhanul Ulum terkesan lebih banyak pencitraan. Selain itu porsi
wakil gubernur juga sangat minim dan terlihat hanya sebagai ban serep
saja.
Anggota DPRD Jawa Barat (Jabar), Daddy Rohanady mengungkapkan hal
itu, Minggu (8/9) terkait setahun kinerja Pemprov Jabar selama satu
tahun di bawah kepemimpinan Gubernur ridwan kamil dan Wagub Uu Ruzhanul
Ulum. Ia menyebutkan koordinasi antara gubernur dengan kepala daerah di
wilayahnya masih belum padu dan harus lebih sinergis. Demikian juga
dengan program yang digagas. Program digitalisasi dari berbagai dinas
terkesan dipaksakan hanya untuk membuat senang pimpinan. Beberapa
berjalan baik, namun banyak juga yang asal buat aplikasi.
Program pembangunan pun menurutnya masih belum berjalan, bahkan
sebagian besar baru dikerjakan memasuki bulan September ini.”Akar
masalah belum tersentuh, program masih sebatas pencitraan saja. Wagub
juga sepertinya hanya sebagai ban serep, acaranya seremonial terus,”
katanya.
Sementara itu, Jumat pekan lalu, Gubernur Ridwan Kamil dan wakilnya
Uu Ruzhanul Ulum menggelar acara Informal singkatan dari Informasi Kang
Emil (sebutan akrab gubernur) memperingati setahun kepemimpinan mereka
di Jawa Barat.
Berbagai program dan keberhasilan disampaikan dalam acara tersebut,
yang dihadiri sejumlah anggota DPRD Jabar dan tokoh masyarakat serta
wartawan.
“Istilahnya kami ini sedang bercocok tanam, jadi belum semuanya bisa dipanen tapi ada juga yang sudah bisa dipanen,” kata Emil.
Ia menegaskan hasil kerjanya itu baru akan terasa di tahun ketiga.
Tahun pertama membangun fondasi, tahun kedua mengakselerasi, dan tahun
ketiga meraih hasilnya.
Lebih dari 500 desa di Jabar sudah naik status dari desa berkembang
menjadi maju, bahkan sudah tidak ada lagi desa berstatus sangat
tertinggal. “Kami banyak menolong desa dengan program One Village One
Company (OVOC), Desa Wisata, dan Desa Digital,” kata gubernur.
Ia mengakui bahwa salah satu permasalahan di Jawa Barat adalah
ketimpangan ekonomi perdesaan dan perkotaan. Oleh karena itu, 60 persen
pembangunan difokuskan di desa. “Mudah-mudahan tiap tahun sampai akhir
masa jabatan saya, semua desa statusnya naik jadi mandiri,” tegasnya.
Menyoal pembangunan infrastruktur, sejumlah jalur kereta api tengah
dalam proyeksi reaktivasi untuk menopang sektor pariwisata, di antaranya
jalur kereta api Banjar-Pangandaran dan Bandung-Ciwidey yang menjadi
prioritas.
Selain itu,ia juga mengajak masyarakat untuk memanfaatkan teknologi
di era digital sehingga merasakan pelayanan yang jauh lebih baik dan
cepat. Jabar Quick Response dan Jabar Sapu Bersih (Saber) Hoaks adalah
bukti inovasi pelayanan Pemdaprov Jabar.
