Tanggal 5 Februari 2019 Himpunan Mahasiswa
Islam (HMI) genap berusia Tujuh Puluh Dua tahun, Sebuah perjalanan
sejarah yang panjang untuk mencatatkan prestasinya bagi kepentingan
bangsa Indonesia. Suatu organisasi kemahasiswaan Islam yang terlahir
dari rahim suci ibu pertiwi dengan suatu komitmen ke-islaman,
ke-indonesiaan dan ke-intelektualan.
Ditengah
kritisisme dan pesimisme banyak kalangan –termasuk para aktivis dan
alumninya- akan masa depan HMI, saya secara pribadi masih menyimpan
sejumlah optimisme bahwa HMI akan tetap menjadi anak kandungnya umat
(rakyat) bangsa Indonesia sepanjang masih memiliki visi, misi dan tujuan
yang tak pernah berubah dari cita-cita awal didirikannya HMI.
Mengapa
optimisme itu masih disandarkan pada HMI ? Lantaran sebagai organisasi
kemahasiswaan Islam tertua di Indonesia, HMI memang bukan sebagai
organisasi politik, akan tetapi HMI memiliki kekuatan politik melalui
independensinya.
Dalam
perspektif semacam itu kekhawatiran terhadap intervensi kekuatan politik
dan ekonomi alumninya, atau kekuatan kekuasaan politik kenegaraan
tampaknya tidak perlu untuk dirisaukan. HMI memiliki kekuatan politik
bukan pada proses dukung mendukung atau tolak menolak berdasarkan
kalkulasi dan perhitungan politik kekuasaan, lebih dari sekedar itu HMI
masih memiliki komitmen yang kuat bagi tumbuh suburnya masyarakat madani
atau civil society di Indonesia.
Independensi HMI
Dalam mewujudkan tujuan HMI, ”terbinanya
insan akademis, pencipta, pengabdi yang bernafaskan Islam dan
bertanggungjawab atas terwujudnya masyarakat adil makmur yang diridhoi
Allah SWT”, HMI memiliki kekuatan Independensi yang bersumber pada
nilai-nilai ruhani dan spritualitas yang tinggi bahwa hakekat
kemanusiaan setiap manusia akan selalu cenderung kepada nilai-nilai
kebenaran (hanif).
Kecendrungan setiap manusia kepada nilai-nilai kebenaran (hanif)
itu pula yang meletakkan posisi independensi HMI berdasarkan
nilai-nilai perjuangannya pada nilai-nilai kebenaran yang paling hakiki
dalam merealisasikan moral politiknya, sebagaimana di dalam Al-Qur’an, ”Dan
hendaklah ada diantara kamu segolongan umat yang menyeru kepada
kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar,
mereka ialah orang-orang yang beruntung”. (QS. Ali Imran: 104).
”Kamu
ialah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada
yang ma’ruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah”. (QS. Ali Imran: 110),
”Dan
orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebagian mereka (ialah)
menjadi penolong sebagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang
ma’ruf, mencegah dari yang mungkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat
dan mereka taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Mereka itu akan diberi
rahmat oleh Allah, sesungguhnya Allah maha perkasa lagi maha bijaksana” (QS. At-Taubah: 71).
Dengan
sandaran yang bersifat transendental itulah maka HMI memiliki kekuatan
politik, tepatnya moral politik yang besar untuk mendorong hadirnya
kehidupan masyarakat madani (civil society) di Indonesia.
Dalam
tinjauan yang sangat teoritis kekuatan moral politik HMI juga mesti
mendorong hadirnya komunikasi politik yang makin terbuka sebagai suatu
syarat hadirnya masayarakat madani (civil society) sebagaimana Gramsci mensyaratkan dua syarat bagi terbentuknya masyarakat madani (civil society), yaitu: Pertama,
sangat tergantung pada tersedia atau tidaknya sebuah ruang atau pentas
bagi pertarungan ide, gagasan atau ideologi. Karenanya masalah demokrasi
dan masyarakat madani (civil society) tidak bisa dipisahkan dari komunikasi politik.
Kedua, prasyarat bagi kehidupan masyarakat madani (civil society)
adalah lenyapnya feodalisme sebagai ideologi tunggal. Sebaliknya,
feodalisme akan terkikis dengan sendirinya bila daya kritis dan kreatif
masyarakat dibuka. Untuk membuka semuanya ini, perlu diciptakan suatu
“medan komunikasi terbuka”, termasuk komunikasi politik.
Bagi
aktivis, kader HMI dan alumni HMI sudah semstinya mendorong kekuatan
politik moral HMI untuk merealisasikan independensinya pada kekuatan
untuk dukung mendukung dan menyeru pada yang ma’ruf dan kebajikan dan
tolak menolak pada kemungkaran, beriman dan mentaati Allah serta
Rasulnya. Bukan pada prakmatisme politik yang bukan menjadi jati diri
HMI.
Tantangan Masa Depan HMI
Tak
dapat dipungkiri, bahwa dalam merealisasikan politik moralnya, HMI
menghadapi berbagai tantangan dan problematikanya di sepanjang
perjalanan sejarah HMI. Tantangan dan problematika itu bukan saja datang
dari kekuatan tarik-menarik kekuasaan politik kenegaraan akan tetapi
juga dari tarik-menarik kekuatan di dalam internal HMI pada prakmatisme
politik dan idealisme.
Masa
depan HMI ditentukan oleh seberapa besar HMI mampu menghadapi tantangan
dan problematika yang dihadapi dengan senantiasa menjaga nilai-nilai
independensinya. Dan dalam menjaga independensinya itu HMI mesti
mengorientasikan perkaderannya tetap pada tiga nilai-nilai utamanya:
Pertama,
nilai-nilai ke-islaman mesti menjadi orientasi bagi perkaderan HMI.
Dengan nilai-nilai ke-islaman yang inklusif, HMI mampu menciptakan
suasana keagamaan yang kondusif dalam kondisi dan tantangan keagamaan di
Indonesia yang terus menghadapi problem penistaan agama dan menjaga
pluralisme di Indonesia. Oleh karena itu, penting bagi HMI untuk selalu
hadir dalam menyelesaikan problem-problem keumatan secara nyata sehingga
HMI akan benar-benar menjadi anak kandung umat.
Kedua,
nilai-nilai ke-indonesia adalah merupakan bagian yang menjadi orientasi
pula dalam perkaderan HMI. Nilai-nilai ke-indonesiaan itu sebagai wujud
bahwa politik moral HMI benar-benar dapat direalisasikan bagi kemajuan
bangsa Indonesia untuk mewujudkan Indonesia menjadi negeri yang baik
dengan Tuhan yang maha pengampun, Baldatun Thoyyibatun Warobbun Ghofur
(QS. Saba: 15), suatu negeri yang subur makmur, gemah ripah loh jinawi
toto tentrem kerto raharjo yang diridhoi Tuhan.
Ketiga,
nilai-nilai ke-intelektualan mesti pula senantiasa menjadi orientasi
dalam perkaderan HMI. Perkaderan HMI diorientasikan pada pengembangan
visi intelektual kadernya. Energi yang besar ini akan menjadi potensial
bagi pengembangan HMI menjadi kampus kehidupan yang paling nyata bagi
mahasiswa di seluruh Indonesia.
HMI
akan mampu membangun nilai-nilai intelektual sepanjang HMI senantiasa
menjadikan setiap perkaderannya menjadi tempat tumbuh suburnya budaya
mendengar, dengan pengembangan budaya dialog, berdiskusi dan berdebat
baik secara formal maupun informal. Mengembangkan budaya membaca baik
dalam makna yang tekstual maupun konstektual dalam membaca perkembangan
zaman yang makin pesat dan maju, sehingga kader-kader HMI memiliki
wawasan intelektual yang luas dan memiliki analisis yang memberi solusi
bagi kepentingan sebuah kemajuan. Dan mengembangkan budaya menulis untuk
menyusun ide dan gagasan secara konseptual yang bermanfaat bagi
kemajuan dan kesejahteraan Umat (rakyat) bangsa Indonesia.
Pertanyaan
yang paling krusial yang mesti kita kemukakan adalah, dapatkah HMI
terus menerus menjaga independensinya untuk mewujudkan harapan dan
cita-cita suci itu sebagai suatu kekuatan moral politik di Indonesia?
Optimisme tampaknya mesti terus kita sandarkan kepada HMI agar mampu menjadi moral politik untuk tumbuhnya masyarakat madani (civil society)
di Indonesia. Kepada Nur Fajriansyah, Ketua Umum PB HMI dan kepada
aktivis dan kader HMI seluruh Indonesia tidak berlebihan kalau kita
titipkan optimisme itu kepada mereka. Kita ingin HMI menjadi Harapan
Masyarakat Indonesia sebagaimana harapan Jenderal Soedirman pada
diesnatalis HMI yang pertama. Selamat Milad HMI ke-64, Jayalah HMI !
Penulis adalah Ketua PB HMI 2002-2004, Koordinator MPK PB HMI 2004-2006 dan Wakil Sekretaris Jenderal PKMN KAHMI 2009-2012.
